Persuit Of The Happiness

Bisa bekerja di perusahaan besar dengan gaji besar adalah impian banyak orang. Tapi sedikit sekali orang yang memiliki kesempatan besar, bukan saja bekerja untuk perusahaan besar dengan pendapatan besar, tapi juga bekerja di kota besar. Hal itu merupakan ‘gengsi’ atau prestasi tersendiri. Kota-kota besar dunia seperti Paris, New York, Tokyo, London, begitu juga dengan Jakarta merupakan primadona sekaligus pusat gravitasi bagi para pencari kerja dan kaum urbanisasi. Bahkan tidak sedikit alasan utama orang-orang yang berasal dari daerah kecil mencari pekerjaan di kota besar adalah kota besar itu sendiri. Tak apalah bergaji kecil dan tersiksa asal bisa kerja di metropolitan. Gaji kecil tak menjadi soal, asal tiap tahun bisa pulang ke kampung halaman untuk sekedar bercerita mengenai gemerlapnya suasana ibukota yang tidak pernah usai dari aktivitas. Fenomena TKI/TKW yang sering mengalami penyiksaan cukup menggambarkan hal tersebut.

Ada sebuah cerita menarik. Suatu sore di tepi pantai, seorang pengusaha yang berusia paruh baya melihat seorang nelayan yang sedang memancing. Pengusaha ini terheran-heran melihat keahlian nelayan tersebut dalam mencari ikan. Nelayan itu mendapatkan ikan dengan mudahnya dan besar-besar pula hasil tangkapannya.

Wah banyak sekali ya, hasil tangkapan Anda?” tanya sang pengusaha.

Ah biasa saja pak. Sama seperti hari-hari kemarin,” jawab sang nelayan.

Pengusaha itu berpikir, jika saja nelayan itu mau pergi memancing agak ke tengah laut mungkin dia akan mendapatkan hasil ikan yang jauh lebih banyak dan besar. Lalu pengusaha itu bertanya, “Apa yang anda lakukan sehari-hari pak?”

Pagi hari saya sarapan, mengantar anak-anak ke sekolah. Menjelang siang kalau tidak berkumpul dengan teman-teman, saya biasanya membantu istri atau bermain dengan anak-anak. Saat sore seperti inilah aktivitas saya, pergi memancing. Menjelang malam saya rutin berkumpul dengan teman-teman atau tetangga. Setelah itu saya berdogeng untuk anak-anak saya,” terang sang nelayan.

Hanya itu pekerjaan Anda?” Tanya sang pengusaha dengan terheran-heran.

Pak tahukah anda bahwa dengan bekerja lebih giat Anda bisa menjadi pengusaha yang kaya raya dari hasil laut ini?” Tambah sang pengusaha.

Kalau boleh saya memberi saran, Anda seharusnya mengurangi waktu berkumpul dengan teman dan tetangga dan menggantinya dengan bekerja keras mencari ikan. Saya yakin dengan Anda bekerja keras penghasilan anda akan bertambah dan Anda akan mendapatkan sukses besar dari hanya mencari ikan. Dengan hasil seperti ini, saya yakin, dalam lima tahun Anda bisa mempunyai kapal besar. Dalam 10 tahun Anda bisa punya pabrik pengolahan ikan terbesar di daerah ini. Anda bisa mengekspornya ke seluruh dunia. Begitu Anda sukses, toh Anda jadi punya waktu lebih banyak untuk berkumpul dengan teman dan tetangga. Bahkan Anda bisa mengajak mereka ke luar negeri untuk berlibur,” saran sang pengusaha.

Untuk apa saya berlibur?” Tanya sang nelayan.

Ya, Anda bisa pergi memancing di daerah pantai lainnya atau menghabiskan waktu di hotel bintang lima,” jelas sang pengusaha.

Bukankah itu yang sedang saya lakukan sekarang,” jawab sang nelayan.

Apapun dan bagaimana pun caranya, pada akhirnya kebahagiaanlah yang manusia cari. Tidak saja di dunia ini, tapi juga bahagia di akhirat nanti, khususnya bagi mereka yang percaya akan hari akhirat. Dalam proses meraih kebahagiaan ada manusia yang percaya bisa mendapatkannya melalui kekayaan. Beberapa ada yang percaya lewat jalan kekuasaan. Kadang ada mereka yang meraihnya melalui pasangan hidup. Namun sesungguhnya dimanakah kebahagiaan itu berada? Untuk menjawabnya, ada sebuah ilustrasi menarik yang diperagakan ratusan tahun lalu oleh seorang Abu Nawas.

Di siang hari yang menyengat Abu Nawas berjalan membawa lentera. Melihat perangainya yang aneh, yaitu membawa penerang di siang hari tetangga Abu Nawas bertanya. “Apa yang sedang kau lakukan Abu Nawas? Mengapa kau membawa lentera di siang hari seperti ini?” tanya tetangganya.

Aku sedang mencari barangku yang hilang,” jawab Abu Nawas.

Apa kamu sudah gila, kamu mencari barang yang hilang di siang hari seperti ini dengan membawa lentera?” Tanya tetangga Abu Nawas. “Lagipula, kamu kehilangan barang dimana?”

Dengan ringan Abu Nawas berkata, “Aku kehilangan barangku di dalam rumah.”

GUBRAK1!!!” Mungkin seperti itulah komentar kita. Tapi bukankah memang seperti itu diri kita sesungguhnya? Manusia terlampau disibukkan dengan hal-hal yang berada diluar dirinya ketika mencari kebahagiaan, kesenangan, dan kenyamanan hidupnya. Padahal kebahagiaan ada di dalam dirinya sendiri. Kitalah yang tahu ukuran kebahagiaan bagi diri kita sendiri, bukan orang lain.

Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat bertanya, “Dit, saya bingung. Saya ditawarin perpanjangan kontrak 2 tahun sama atasan saya. Terus saya juga bakal naik jabatan.”

Sejenak saya berpikir, pasti ada sesuatu yang gak beres saat seseorang ditawari kenaikan pangkat tapi dia ragu menerimanya. Bagi saya yang “sibuk” dan resah mencari pekerjaan, tawaran kenaikan pangkat tak beda seperti kucing kampung kurus yang mendapatkan rendang balado. Saya berani bertaruh kalau sahabat saya ini sedang berlaku seperti Abu Nawas pada cerita diatas.

Nte gak akan bingung dan risau dengan tawaran itu kalau nte udah punya jalan hidup yang jelas. Saya jawab seperti itu dan percakapan kami pun terhenti.

Kadang kurangnya rasa syukur kepada Allah menciptakan kabut tebal yang dapat menghalangi perjalanan manusia. Pada dasarnya mereka sudah berada dijalan yang benar, tapi kabut yang menghalangi membuat langkah mereka ragu, bahkan terhenti. Sudah menjadi sifat dasar manusia ketika kesenangan tiba maka sukar untuk bersyukur dan mengingat Rabb-Nya.

Mungkin nelayan itu tahu, kalau dia menjadi kerja keras dan menjadi kaya raya maka dia akan mengorbankan masa kecil anaknya untuk tumbuh dewasa. Nelayan itu pun tidak tega meninggalkan sahabat dan tetangganya yang dirundung kesulitan. Atau bisa jadi rasa cinta kepada istrinyalah yang mengurungkan niatnya menjadi pengusaha kaya. Bisa jadi juga nelayan itu sudah menemukan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya meski mungkin rumahnya tidak beralaskan pualam.

Tidak ada yang salah dengan menjadi kaya raya, tinggi jabatan, dan pasangan hidup yang rupawan. Allah hanya mengingatkan kalau dunia beserta segala isinya sering menyilaukan manusia. Saya jadi ingat sebuah pepatah yang mengatakan kalau kita itu tersandung bukan karena batu besar tapi karena kerikil kecil yang tak nampak. Mungkin dalam pandangan Allah, dunia adalah kerikil kecil yang tidak layak disandingkan dengan akhirat yang besar dan berkilau.

Tangerang, 5 Februari 2010.

Gubrak : istilah gubrak lazim dipakai dalam komik-komik jepang untuk menunjukkan rasa kaget/terkejut karena mendapat respon yang tidak terduga. Gubrak menggambarkan kondisi seseorang yang sedang jatuh ke belakang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s