Jembatan Kehidupan

Wacana adalah sebuah tebing. Sementara realitas yang terjadi adalah tebing lainnya. Bagaimanakah caranya agar keduanya tersambung? Itu yang akan kita cari.

Saudaraku, sering kita mengeluh akan sebuah kata-kata yang tidak memiliki arti karena jauh dan tidak bisa menjawab persoalan atau kenyataan yang sering kita hadapi. Sementara itu, tidak sedikit dari kita yang memperoleh kata-kata tersebut dari hasil mendatangi seminar, training motivasi atau membaca buku-buku pengembangan diri. Namun, sekali lagi, ketika berhadapan pada persoalan yang  sebenarnya, motivasi kita seakan-akan padam dan pudar.

Seperti sudah saya sebutkan bahwa kata-kata atau mimpi adalah sebuah tebing dan realitas yang terjadi atau cita-cita adalah sisi tebing lainnya. Kedua tebing tersebut tidak perlu kita satukan karena hanya akan buang waktu dan tenaga saja. Kita hanya perlu sebuah jembatan agar kedua tebing tersebut terjalin. Dan berlatih adalah jembatan itu, yaitu penghubung antara kata-kata dengan realitas yang ingin kita raih.

Dalam sejarah peradaban manusia sudah banyak berdiri gedung dan bangunan yang menakjubkan. Sudah jutaan pohon dan jutaan liter tinta digunakan untuk menuliskan beragam penemuan dan teknologi. Ke semua itu awalnya hadir dalam selimut mimpi-mimpi. Dan dari mimpi-mimpi itu lahirlah sebuah perencanaan. Ketika perencanaan telah terbingkai dengan indah maka dengan sendiri perjuangan dimulai.

Perjuangan adalah proses latihan yang berlangsung tanpa henti. Namun ketika perjuangan mencapai ujungnya, bukan berarti latihan akan terhenti. Berjuang dan berlatih memiliki nada dasar yang sama. Mereka adalah bahan dasar dalam membuat jembatan kehidupan. Sebuah jembatan yang akan menghubungkan sekeranjang impian dengan cita-cita yang sedang menunggu di sisi tebing lainnya. Bila kita ingin membangun jembatan kehidupan kita harus ingat prinsip utamanya, yaitu semakin keras dan disiplin kita berjuang dan berlatih maka mimpi sebesar atau seberat apapun akan dengan mudah kita seberangkan.

Latihan yang keras akan membuat fondasi jembatan kokoh. Latihan yang ikhlas akan membuat jembatan kehidupan kita tahan gempa dan angin topan. Latihan yang cerdas akan membuat fondasi tidak berkarat dan lapuk. Namun sayang, kita seringkali tidak tahan dalam membangun jembatan kehidupan dan merasa kesulitan mencari bahan-bahan bangunan. Rasa letih dan bosan adalah resiko yang harus kita hadapi karena itu adalah semacam ujian, apakah jembatan kita cukup kuat atau tidak.

Sekarang mari kita lupakan sejenak logika dan angka-angka karena terkadang hal itu sering membuat kita pesimis dan mudah menyerah. Kita singkirkan teori-teori sekitar kita yang melihat upaya kita akan gagal. Biarkan kali ini kesabaran dan keikhlasan yang menjadi irama pengiring saat kita membangun setahap demi setahap jembatan kita. Kesabaran dan keikhlasan identik dengan kegagalan dan kekecewaan. Kegagalan dan kekecewaan adalah sebuah harga yang harus kita bayar jika kita ingin membangun jembatan kehidupan. Kita harus melihat kegagalan dan kekecewaan sebagai tali penghubung atau besi yang menyatukan unsur-unsur di antara jembatan. Dan ingatlah ketika kita sudah menginjakkan kaki di tebing keberhasilan, kita semua menjadi rindu ingin kembali. Kembali ingin membangun jembatan kehidupan untuk mimpi kita selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s