Gagal dan Kecewa

Sebelum tulisan ini mencapai ujungnya, sepertinya saya harus meminta maaf kepada para pembaca bila judul tulisan yang cenderung negatif dan provokatif. Sangat manusiawi sekali kalau manusia itu senantiasa mencari kebahagiaan dan menghindari kegagalan. Tapi apakah saat kegagalan dan kesedihan tiba lantas kita bisa menghindarinya? Namun sebelum itu, saya yakin kalau pembaca akan membaca (baca:melihat) dan memahami (baca:mendengar) terlebih dahulu karena mata dan telinga kita berjumlah dua dibanding lidah yang hanya satu (baca:berkomentar).

Semua orang sedang tumbuh, berproses. Binatang dan pohon di hutan, ikan di laut semua sedang bertumbuh. Dulu, saat dilahirkan kita hanya bisa menghisap air susu. Selang beberapa bulan, bubur dan biskuit sudah bisa ditelan. Dalam hitungan tahun, sekerat daging sudah bisa kita cerna. Menjelang dewasa semua makanan dan minuman tanpa sensor sudah bisa ditelan bahkan bagi pemain debus, paku dan beling tak beda seperti kentang goreng dan kripik singkong.

Seiring berjalannya usia kita, orang tua, teman, guru, dan lingkungan mengajari kita tentang segala hal berikut dengan batasan-batasannya. Salah satu yang kita pelajari adalah mengenai nilai baik-buruk, kebaikan-kejahatan, tawa-tangis, bahagia-sedih, sukses-gagal dan beragam dualitas lainnya. Dengan kategorisasi tersebut kita menjadi seorang pembelajar dan secara tidak langsung kita pun semakin pandai membuat kotak-kotak kehidupan. Bila datang kotak putih (bahagia, tawa, sukses) maka tangan kita menyambutnya dengan lebar. Namun jika kotak hitam (sedih, gagal, mati) yang menghampiri maka penolakan besar-besaran terjadi. Semakin dewasa kita semakin mengharapkan yang putih dan menolak yang hitam.

Maka tidak aneh jika tiba saatnya tahun baru atau momen spesial kita semua sibuk membuat rencana, resolusi atau target keberhasilan. Berapa besar gaji kita tahun ini, jabatan apa yang harus kita pegang, dan beragam targetan lainnya. Sementara jarang sekali kita merenung bahwa kesedihan dan kekecewaan pun terkadang butuh “persiapan” dan “rencana”. Terdengar absurd memang. Kita terlampau terbiasa mengharap yang putih dibanding hitam. Gagal dan kecewa bagi mereka yang mengenal dirinya,sebenarnya adalah sama dengan sukses dan bahagia. Bagi mereka yang mengenal Tuhan dengan baik maka segala putih dan hitam yang menimpa akan disambut dengan seuntas senyuman. Bukankah Islam mengajarkan kepada kita untuk percaya kepada Qada dan Qadar, baik yang putih maupun hitam?

Lihatlah pohon yang berbuah atau sapi yang bersusu. Apakah pernah kita mendengar mereka complain atau protes setiap kali buah dan susu mereka diambil? Dipetik atau tidak, diperah atau tidak, pohon dan sapi tetap akan berbuah dan bersusu meski mereka tahu bahwa buah dan susu yang mereka produksi lebih banyak untuk manusia. Berbuah dan bersusu adalah tugas mereka. Sama seperti kita, bekerja dan beribadah adalah tugas kita, sukses atau gagal adalah dua hal yang pasti kita peroleh. Mengelola kesuksesan dan kekecewaan adalah hal lain yang sering luput dari perhatian kita.

Rasulullah saw, Umar bin Khattab, Thomas Edison, Jalaluddin Rumi, Mahatma Ghandi, dan orang-orang besar lainnya adalah mereka yang pandai mengelola segala hitam dan putih. Bahkan hampir separuh hidup mereka penuh dengan hitam. Gagal, kecewa, dimaki, dikhianati, diasingkan dll. Bagi mereka, hitam adalah sisi lain dari mata uang yang membuat hal itu bernilai. Bukankah uang akan bernilai jika kedua sisinya sempurna? Kegagalan dan kekecewaan yang menimpa mereka adalah jamu pahit yang dapat menguraikan rasa pegal linu dan memulihkan stamina.

Maaf jika lagi-lagi terdengar sumbang dan aneh. Kita semua tahu bahwa hanya ada satu juara dalam pertandingan, hanya ada satu pimpinan dalam perusahaan, hanya ada satu jenderal dalam pasukan, dan satu presiden dalam negara, tapi sedikit yang kita tahu bahwa mereka ada karena orang-orang disekitarnya. Juara ada karena ada pihak yang kalah. Pimpinan ada karena ada karyawan, jenderal ada karena ada kopral dan presiden hadir karena ada rakyat.

Tidak ada yang salah dengan menjadi kaya, sukses, dan bahagia bahkan itu adalah hal yang harus kita perjuangkan. Seorang bijak pernah berucap, ternyata kegagalan lebih banyak memberiku pelajaran berharga tentang kesabaran dan keikhlasan. Lebih jauh sang bijak itu berucap, dengan kegagalan aku semakin dekat dengan Tuhan. Tentunya sang bijak sudah merasakan apa arti dari kesuksesan.

Untuk mereka yang sedang merajut mimpi. Gagal dan kecewa adalah pupuk yang akan membuat mimpi terasa lebih manis dan ranum….

Tangerang, 5 Januari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s