Sang Alkemis Dan Sang Pemimpi

 

Novel laris Sang Pemimpi karya Andrea Hirata melukiskan dengan jelas sekali sosok anak muda yang begitu bersemangat meraih impiannya. Di tengah beragamnya keterbatasan yang menghimpit sosok Ikal dan Arai, semangat meraka tidak padam. Justru kesempitan dan keterbatasan itulah yang membuat impian mereka semakin dekat dengan kenyataan. Seorang bijak mengatakan bahwa impian atau kesuksesan besar kita diawali dengan kesuksesan-kesuksesan kecil yang diraih setiap harinya.

Dalam realitas keseharian kita, manusia senantiasa memiliki harapan-harapan yang hendak dicapai. Kesuksesan dalam hal karir atau pekerjaan, kebahagiaan dalam keluarga, atau bahkan keinginan menjadi seorang pemimpin politik yang berpengaruh, menjadi penulis best seller merupakan contoh dari sekeping cita-cita kita. Setiap dari kita pasti memiliki rajutan impian yang ingin diraih, tidak peduli besar atau kecil impian tersebut. Namun seiring bertambahnya usia dan bergantinya hari beragam persoalan datang untuk menguji kekuatan mimpi-mimpi kita. Dalam perjalanannya, ada yang tetap terus bertahan dan berjuang meraih impiannya, tapi tidak sedikit pula yang tumbang dan memilih berhenti merangkai impian sejatinya.

Dalam cerita Sang Alkemis karya Paulo Coelho, dengan apik dan sederhana diceritakan sosok Santiago, bocah penggembala domba, yang mencari legenda pribadinya. Legenda Pribadi adalah apa yang selalu ingin kita tunaikan dan setiap orang memilikinya. Dalam salah satu fragmennya disebutkan, pada titik kehidupan mereka itulah semunya menjadi jelas dan segalanya mungkin terjadi. Setiap orang tidak takut untuk bermimpi dan mewujudkannya. Tapi selang berlalu waktu, suatu daya misterius hadir untuk membuat keraguan dan melemahkan keyakinan dalam mewujudkan Legenda Pribadi mereka.

Perjalanan untuk meraih Legenda Pribadi (baca:cita-cita) bukanlah suatu yang mustahil untuk diraih. Jalan yang ditempuh memang terjal dan berliku. Bahkan adakalanya orang-orang terdekat kita justru menjadi orang pertama yang meragukan harapan dan cita-cita kita. Proses meraih cita-cita tidak lepas dari beragam ujian dan cobaan.

Ada dua faktor penghambat mimpi-mimpi kita, yaitu faktor eksternal (lingkungan kita) dan internal (diri kita). Faktor eksternal biasanya meliputi tanggapan orang-orang di sekitar kita yang seringkali mengendurkan semangat kita. Sang alkemis menuturkan bahwa bila kita memiliki harta yang sangat bernilai dalam diri kita, yaitu impian, dan memberitahu orang lain tentang hal itu, jarang ada yang percaya. Sementara faktor internal meliputi hal –hal seperti adanya zona nyaman dalam diri kita, ketakutan akan perubahan, terjalnya ujian yang datang, merasa cukup dengan apa yang didapat, dan trauma akan kegagalan.

Setiap pencarian mimpi-mimpi kita adakalanya diawali dengan “kemujuran” pemula. Namun satu hal yang pasti adalah setiap dalam perwujudan mimpi kita akan berakhir dengan kemenangan yang telah melewati ujian yang berat. Sabar dalam menjalani proses merupakan syarat utama. Kita tahu bahwa emas dan intan menjadi bernilai dan mahal harganya karena telah mengalami proses dan perjalanan waktu yang sangat panjang dari yang semula hanyalah materi alam biasa.

Ada satu kebenaran di dunia ini, yaitu saat kita benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya. Jadi, jangan takut dan berhenti mewujudkan impian-impian kita.**

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s