Alquran dan Sastra Arab*

Bismillah….

Ya Allah, aku berlindung dari kata-kata yang tidak bermanfaat

 

Dan jika kamu meragukan Alquran yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya

dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah,

jika kamu orang-orang yang benar(2:23)

Sebagai seorang muslim, kita sudah tahu bahwa Alquran merupakan pedoman dan jalan hidup. Alquran merupakan penuntun ketika kita meniti jalan kehidupan yang penuh dengan tipu daya dan jebakan. Di sisi lain, Alquran merupakan mukjizat terbesar Rasulullah saw. Lalu, mengapa Alquran menjadi mukjizat terbesar Rasulullah?

 

Bila kita melihat mukjizat para nabi sebelum Rasulullah saw, umumnya adalah berupa hal-hal yang berdaya magis dan di luar nalar manusia. Tongkat Nabi Musa dapat berubah menjadi ular dan membelah lautan. Nabi Isa dapat menyembuhkan orang sakit bahkan menghidupkan kembali yang sudah mati. Pada dasarnya, mukjizat ditunjukkan untuk meruntuhkan ketidapercayaan kaum kafir atas kebesaran Allah.

 

Berbeda dengan Alquran. Secara kontekstual Alquran adalah kumpulan huruf, kata, atau kalimat dalam bentuk bahasa Arab. Alquran bukanlah suatu yang memiliki daya “magis”, semisal tongkat Nabi Musa. Kedudukan Alquran merupakan pelengkap dan penyempurna dari Zabur, Taurat, dan Injil. Lalu mengapa Rasulullah dituduh sebagai seorang penyair (21:5)? Mengapa pula Allah menantang kepada kaum kafir, bahkan jin sekalipun, untuk membuat satu ayat saja yang menyerupai Alquran (17:88)? Adakah kaitan antara Alquran dengan sastra (baca:syair) Arab? Bukankah Allah mengutus para Nabi dan berbicara dengan bahasa kaumnya?

 

Dalam perspektif bangsa Arab pada masa pra Islam, kedudukan sastra (dalam arti luas seperti, syair) memiliki arti yang sangat penting dan bahkan lebih bersifat transendental. Dengan kata lain, syair bisa dijadikan media untuk mendekatkan diri kepada zat yang maha kuasa. Syair juga merupakan representasi dari peradaban, budaya, tatanan sosial, politik, dan moral dari masyarakat Arab. Syair merupakan ekspresi dari nilai-nilai agung yang dianut oleh bangsa Arab. Para penyair tidak saja memiliki kedudukan yang terhormat, tapi juga simbol bagi kaum intelektual. Secara teknis, syair di masa pra Islam tersusun atas bahasa Arab yang tidak saja baik dan benar tapi juga indah dan menggugah. Oleh karena itu, masyarakat awam (bangsa Arab) sangat hormat terhadap syair-syair, bahkan cenderung mengagungkannya.

 

Kehadiran Islam direpresentasikan melalui Alquran yang tertuang dalam bahasa Arab. Inilah bukti bahwa rasul atau nabi diutus sesuai dengan bahasa kaumnya. Namun yang menjadi catatan adalah bahwa Alquran bukanlah syiar, sementara kita tahu bahwa syair menempati kedudukan yang sangat agung dan sakral di mata bangsa Arab. Syair begitu dekat dengan kehidupan bangsa Arab.

 

Dengan kata lain kehadiran Islam pada saat itu, melalui Alquran, merupakan tantangan sekaligus ancaman bagi bangsa Arab. Seluruh peradaban, tatanan sosial, budaya, moral, dan nilai-nilai di masa jahiliyah sedang diguncang oleh kehadiran Alquran. Alquran telah meluluhlantakan fondasi dan tatanan keyakinan bangsa Arab. Alquran telah menantang dan menyerang daerah paling sensitif, sakral, agung bagi bangsa Arab. Singkatnya untuk mengubah peradaban jahiliyah bangsa Arab dilakukan melalui Alquran

 

Alquran tidak saja menantang dan memporak-porandakan nilai-nilai yang ada dalam syair-syair bangsa Arab, tapi juga membangun suatu konstruksi kebahasaan yang baru dan lain dari karya sastra terbaik bangsa Arab sekalipun. Inilah yang menyebabkan Alquran tetap terjaga. Seorang penyair yang genius di masa Rasulullah akan mengatakan kalau Alquran bukanlah syair. Alquran tidak terdefinisi, sesuatu yang diluar akal manusia. Namun masyarakat awam akan melihat hal itu seperti syair, padahal Alquran dan syair jelas berbeda.

 

Mungkin tindakan para sahabat yang masuk Islam karena mendengarkan lantunan ayat suci Alquran cukup menjadi penjelasan bagi kita semua betapa Alquran merupakan mukjizat Rasulullah saw. Mukjizat yang bisa dirasakan hingga matahari terbit di ufuk barat. Umar, Musaib bin Umair dll

Wallahualam

 

Katakanlah “sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul, untuk membuat yang serupa dengan Alquran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya,sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.” (17:88)

 

 

* catatan:

Tulisan ini merupakan alihbahasa/interpretasi dari perbincangan saya dengan sahabat saya, Bulky, dari sebuah artikel yang berjudul Alquran, Politik, dan Sastra dalam majalah Kalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s