Si Doel (Bukan) Anak Sekolahan

Semua orang mungkin tahu sosok seorang si Doel dalam sinetron atau film yang diperankan oleh Rano Karno (dalam sinetron) dan Benyamin Sueb (dalam film). Sosok seorang anak desa yang mencoba bersekolah sampai di perguruan tinggi untuk mendapat gelar seorang “tukang” insiyur. Si Doel merupakan anak kebanggaan keluarga, sang ayah dengan rela menjual tanah leluhurnya dengan harapan agar anaknya bisa bersekolah yang tinggi dan bisa membawa nama harum keluarga. Di sisi lain adiknya si Doel tidak diberi kesempatan untuk mencoba pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Gambaran sosok keluarga si Doel bisa jadi merupakan representasi dari keluarga-keluarga di Indonesia pada umumnya. Orang tua Doel begitu sadar bahwa pendidikan merupakan elemen terpenting yang akan menjadi bekal dalam menjalani kehidupan. Bahkan ayah si Doel dengan rela menjual tanah agar kuliah anaknya lancar. Dia tahu betul bahwa biaya di perguruan tinggi begitu mahal.

Mengubah Paradigma Masyarakat
Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam kehidupan. Karena itu Negara mengaturnya secara khusus dalam UUD’45. Negara mencoba membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat dengan mencantumkan bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Namun pada kenyataannya apa yang tertulis dalam UUD’45 kontras dengan realitas yang ada.

Lain lagi yang terjadi di masyarakat kita pada umumnya. Masih banyak masyarakat di negeri ini yang belum sadar akan pentingnya pendidikan. Belum sadarnya masyarakat ini bisa jadi dikarenakan tingkat pendidikan mereka yang rendah. Mereka acapkali menjadikan tameng ekonomi sebagai dalih dari ketidakmampuan menyekolahkan anak-anak mereka. Bagi mereka yang terpenting adalah bisa membaca dan menulis. Padahal tidak sedikit orang tua yang tidak mampu dari segi ekonomi namun tetap bisa menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi.

Paradigma yang keliru ikut menimpa pihak-pihak yang justru yang diharapkan akan memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan dunia pendidikan. Pemerintah seringkali keliru dalam memandang hakikat dari sebuah pendidikan. Cara pemerintah dalam memandang apa itu pendidikan, apa kaitan pendidikan dengan hakikat manusia yang kodratnya harus mendidik dan menjadi terdidik, apa fungsi dan tujuan pendidikan dan pertanyaan filosofi lainnya.

Definisi dan cara pandang yang berbeda pada akhirnya akan melahirkan kebijakan yang berbeda-beda. Maka tidak mengherankan ketika kurikulum yang dipakai di negeri ini terkesan tidak konsisten, integral, dan komprehensif. Prinsipnya ganti pemerintah ganti kurikulum. Fenomena lain akibat dari salah dalam memandang pendidikan adalah dijadikannya dunia pendidikan sebagai barang dagangan. Pelajar dijadikan sebagai konsumen atau pembeli sementara pihak pemerintah atau swasta berposisi sebagai produsen atau penjual. Pendidikan dijadikan komoditi barang dagangan. Inilah cara pandang kapitalis. Parahnya lagi benih-benih pendidikan kapitalis yang membawa ruh liberalisme mulai menggerogoti dunia pendidikan kita.
Tiga Persoalan Utama
Ada persoalan pokok yang harus segera ditangani dalam dunia pendidikan kita, yaitu relevansi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Dua hal pertama, yaitu relevansi dan mutu berkaitan dengan hakikat pendidikan dan pengajaran sedangkan hal yang terakhir, yaitu pemerataan berkaitan dengan ideologi negara tentang pendidikan.

Pendidikan disebut relevan apabila mampu memberikan kepada peserta didik bekal hidup yang sesuai, sehingga ia dapat menata kehidupan dan penghidupan secara mandiri di dalam lingkungan dan era tertentu. Bekal hidup yang dibutuhkan tiap manusia di abad ke-21 ini terdiri atas komponen-komponen utama, yaitu pengetahuan dan keterampilan, sikap keprofesian, dan sikap hidup yang berpedoman pada moralitas yang dianut. Agar pendidikan yang relevan dapat tercapai perlu didukung oleh aspek-aspek lain seperti:
1. Peta kebutuhan. Menyesuaikan peta kebutuhan akan pengetahuan dan keterampilan yang dituntut oleh keadaan di berbagai wilayah indonesia.
2. Lingkungan hidup yang berbeda. Perbedaan karakter wilayah akan melahirkan tuntutan yang berbeda pula.
3. Pendididkan kejuruan
4. Kurikulum
5. Dunia usaha dan sekolah. Dunia pendidikan pada akhirnya tidak akan lepas dari kebutuhan dunia usaha akan SDM-SDM yang berkualitas.
6. Pembinaan potensi di luar inteligensia.
7. Pengembangan sikap dan watak.
8. Pendidikan nilai.
9. Pendidikan di dalam keluarga.

Pendidikan yang bermutu harus ditunjang oleh mutu sarana dan prasarana, mutu proses pembelajaran, dan mutu tenaga kependidikan dan keguruan. Yang paling penting adalah mutu proses pembelajaran. Mutu proses pembelajaran ditentukan terutama oleh tiga hal, yaitu kurikulum, metode belajar dan mengajar, dan guru yang memanfaatkan kurikulum dan metode dalam berinteraksi dengan peserta didik.

Hal penting lainnya adalah membuka keran sebesar-besar bagi masyarakat untuk bisa mengakses pendidikan dengan mudah dan murah. Selama ini bisa kita rasakan bahwa perkembangan pendidikan hanya sebatas berada di Pulau Jawa saja. Bahkan di Pulau Jawa pun belum merata benar, apalagi bila kita berbicara di tingkat nasional atau daerah-daerah lainnya.

Realitas saat ini yang bisa kita rasakan dan lihat adalah tidak sedikit “keluarga-keluarga si Doel” yang secara psikologis kesadaran mereka sudah terbangun akan pentingnnya pendidikan namun ekonomi menjadi penghalang benteng kuat yang menghalangi langkah mereka. Sudah saatnya kita menuntut kepada pemerintah agar segera merealisasikan dan pendidikan sebesar 20% karena ini merupakan amanat dari UUD’45.

Majunya pendidikan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah atau negara tapi juga dibarengi oleh peran serta masyarakatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s