Muda dan Resah

Akhir-akhir ini perbincangan seputar hari kebangkitan nasional sedang ramai-ramainya diangkat. Wajarlah karena bertepatan dengan momentum satu abad hari kebangkitan nasional yang ditandai dengan berdirinya sebuah organisasi modern pertama, yaitu Boedi Oetomo. Douwes Dekker, HOS Cokroaminoto, dan Suryadi Suryaningrat dan masih banyak lagi yang lainnya yang pada saat itu masih begitu muda sepertinya tidak akan pernah tahu kalau berdirinya Boedi Oetomo akan dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional. Keinginan untuk merdeka, lepas dari genggaman penjajah, cita-cita untuk bersatu, harapan akan lahirnya masyarakat yang sejahtera dan madani merupakan impian mereka. Semua itu hadir karena adanya satu keresahan dalam benak mereka. Mereka adalah kaum muda yang resah. Resah akan kondisi bangsanya yang masih terbelenggu. Terbelenggu dengan kaum penjajah.

Dalam dunia sastra, pada awal tahun 1940-an lahir seorang penyair muda. Puisinya lahir dari sebuah keresahan. Walau mati muda, namun syairnya masing nyaring terdengar. Chairil Anwar kita menyebutnya. Merangkak sedikit ke tahun 1965 bersemi gerakan kaum muda yang kali ini mahasiswa menjadi motor geraknya. Muncul sebuah nama Soe Hok Gie yang, sekali lagi, tidak saja muda tapi juga resah. Ada ratusan bahkan ribuan mahasiswa pada saat itu yang resah akan kondisi negera yang ringkih dan pesakitan. Arif Rahman Hakim “hadir” dan “tenggelam” pada 1970-an. Malari adalah “persembahan” dari pemerintahan represif Soeharto kepada para mahasiswa yang saat itu tidak saja muda tapi juga resah.

Dan sekali lagi, pada 1998 kaum muda kembali, kali ini dengan keresahan yang tak terbendung. Gedung DPR yang dingin dan angkuh dipaksa untuk menurunkan Presiden Soeharto walau harus dibayar tak ternilai dengan tertembaknya rekan-rekan mahasiswa. Masih muda dan tetap resah pula.

Jadi apa yang kita dapatkan dari keresahan 1998? Keresahan yang dialami oleh kaum muda, sebut saja mahasiswa, hanya mengganti sosok seorang pemimpin negara dari yang otoriter menjadi seorang pemimpin yang lebih otoriter lagi. Mengganti pemerintahan yang korupsi menjadi pemerintahan yang lebih korup lagi. Kalau perlu, korupsi dengan peringkat terbaik di dunia.

Banyak kaum elit dan kaum reformis berteriak lantang bahwa tidak ada perubahan dalam reformasi. Reformasi telah gagal. Memangnya bisa jadi apa Indonesia dalam waktu 10 tahun? Ternyata kaum muda yang dulu pernah muda sedikit demi sedikit sudah agak luntur keresahannya. Walau tidak semua.

Generasi MTV yang Resah
Hari ini kita patut bangga bisa turun ke jalan tanpa harus takut akan kehilangan nyawa atau diculik oleh intel-intel aparat. Gerbang reformasi yang sudah terbuka lebar membawa angin transparansi yang lebih segar. Semua orang, baik muda dan yang mengaku muda, yang resah dan pura-pura resah bisa turun ke jalan dan berteriak lantang menodong pemerintah dan para pengambil kebijakan untuk melakukan ini dan itu. Terasa kurang afdol kalau tidak membonceng para kuli tinta alias wartawan dalam tiap kali aksi. Demikianlah sebuah perhelatan demonstrasi atau aksi yang berada diatas panggung drama yang penuh dengan babak-babak. Hari ini temanya kenaikan BBM. Besok turunkan presiden. Besoknya lagi singkirkan investor asing. Besok, besok, dan besoknya lagi turunkan harga sembako.

Turun ke jalan dengan ratusan simpatisan atau pengikut. Membawa poster-poster berisi tulisan menuntut ini dan itu. Berteriakan dan bernyanyi agar simpatisan kita tetap semangat dan terbakar. Setelah itu berhadapan dengan Pak Polisi. Nego ini itu. Mentok. Terakhir bentrok.

Jujur saja kawan. Terkadang kita sudah resisten dengan berbagai aksi-aksi yang turun ke jalan. Tapi rasa resah kami masih tertahan. Menggumpal dan akhirnya mengkristal. Namun tak bisa dipungkiri, kita pun ternyata masih seorang anak manusia yang masih gemar dengan lelucon dan guyonan. Masih suka baca komik Conan di waktu senggang. Masih suka nonton di twenty one (21). Masih suka alunan dari Raihan, U2, the Beatles, Coldplay. Karena kita generasi MTV. Generasi MTV yang masih tetap resah.

Turun ke jalan (baca: demontrasi), berkegiatan di lembaga kemahasiswaan adalah sedikit dari rutinitas kami di kampus. Jiwa-jiwa kami sebenarnya berkeliaran ke sana ke mari. Bagi sebagian orang mengatakan kita generasi yang tak punya pegangan, tapi bagiku itu petualangan. Dunia kampus adalah dunia terindah dalam hidup ini. Dunia yang tidak mengenal salah atau benar. Karena kita sedang menuntut ilmu. Tapi jangan pernah sekali-kali kalian berlaku culas dan tidak jujur. Sebab itu adalah perilaku nista dalam ilmu pengetahuan. Kan katanya kampus identik dengan ilmu pengetahuan. Jadi berlakulah jujur dalam setiap perilaku. Kalau tidak bisa, ya harus bisa, minimal niatkan untuk berlaku jujur dulu. Karena kata Rasul saw jujur itu membawa kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga-Nya.

Seandainya Saya Seorang Aktivis
Aktivis adalah orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya. Bisa berarti juga, aktivis itu adalah seseorang yang menggerakkan (demonstrasi). Itu kata Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi III 2005. Jadi pada dasarnya semua mahasiswa adalah aktivis, tapi ternyata ada syaratnya, yaitu dia (aktivis) yang berkegiatan dalam organisasi dan bekerja aktif. Jadi jelas, kalau ada mahasiswa yang tidak berorganisasi dan bekerja aktif maka dia bukan aktivis.

Ini menarik, karena sepertinya makna aktivis telah bergeser menjadi monopoli sebuah lembaga kemahasiswa, khususnya di tingkat universitas, yaitu BEM atau BPM atau sejenisnya (pokoknya yang berbau politis). Entah siapa yang memulai, padahal ada lho sebutan aktivis lingkungan, aktivis HAM dsb. Pokoknya kalau ada mahasiswa yang demontrasi di jalan, itu berarti dia aktivis banget. Padahal kalau kita berpegangan pada KBBI maka tidak peduli saya tergabung dalam organisasi apa, yang penting saya berkontribusi dan bekerja aktif maka saya adalah aktivis. Jadi kalau ada tukang becak tergabung dalam sebuah karang taruna dan bekerja aktif maka dia adalah aktivis juga.

Pemaknaan atau persepsi yang berbeda akan melahirkan sikap atau perilaku yang berbeda pula. Setidaknya itu pelajaran yang saya dapatkan selama di bangku kuliah. Seorang anggota atau pengurus BEM/BPM yang memaknai kata aktivis sebagai sebuah sosok yang kritis dan peduli seperti tokoh Soe Hok Gie dalam film Gie pasti akan berapi-api tiap kali diajak aksi. Tapi buat saya, ukuran aktivis bukan dari banyaknya dia turun ke jalan. Hal utama yang di tuntut dari seorang aktivis di mana pun dia berada adalah terus berkontribusi dan bertanggung jawab terhadap organisasi yang dia lakoni sampai tuntas. wallahualam

Mahasiswa takut sama dosen
Dosen takut sama rektor
Rektor takut sama menteri
Menteri takut sama presiden
Presiden takut sama mahasiswa
(Taufik Ismail )

Jatinangor, 26 Mei 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s