Jurnalisme Pasar

Saat ini dunia telah memasuki era globalisasi, dimana arus informasi terus menerus mendera kita. Dunia menjadi obesitas terhadap arus informasi yang datang silih berganti. Dalam dunia bisnis mulai bermunculan perusahaan-perusahaan multinasional. Tidak ada lagi batas teritorial dan kewarganegaraan. Sisi lain dari semakin menggeliat arus informasi dalam era globalisasi adalah mulai munculnya keseragaman informasi. Keseragaman pemberitaan dalam media massa muncul karena semakin kukuhnya cengkeraman kapitalisme saat ini. Para kapital sudah mulai menyadari pentingnya peranan media massa dalam membentuk opini di masyarakat demi kepentingan mereka (para kapital).

Dari sinilah hari demi hari mulai lahir jurnalisme pasar. Jurnalisme yang tidak hanya berorientasi untuk mencari berita atau sebagai anjing penjaga, tapi justru lebih dari itu, yaitu jurnalisme yang lebih condong kepada laba atau keuntungan semata. Dengan mulai bergesernya peran pers dari yang semula pengontrol sosial menjadi sebuah lembaga yang mencari untung dan sebagai investasi kekuasaan bagi para pengusaha, justru akan mengurangi independensi mereka dalam mengelola berita di hadapan masyarakat.

Ada tiga kekuatan yang menyebabkan terjadinya pergeseran jurnalisme dari upaya pengembangan komunitas, yaitu sifat teknologi baru, globalisasi, dan konglomerasi (Bill Kovach & Tom Rosenstiel, Elemen-Elemen Jurnalisme). Ketiga kekuatan tersebut telah hadir dalam dunia pers. Dan konglomerasi telah nampak seperti sebuah keniscayaan dalam dunia jurnalisme, karena saat ini peran pers tidak hanya sebagai lembaga social tapi juga telah menjadi sebuah industri.

Efek dari munculnya konglomerasi di media massa, khususnya pers, adalah semakin beragamnya pemberitaan yang muncul atau diangkat kepermukaan dan pengaruh terhadap kinerja para wartawan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa berita-berita yang hadir dan diberikan ke masyarakat menjadi sejenis atau homogen. Saat sedang hangat-hangat sebuah isu maka ibarat semut yang mengelilingi gula, pemberitaan media pun hanya menyoroti satu permasalahan itu saja. seolah-olah isu atau berita yang sedang diangkat merupakan sesuatu yang sangat penting. Masyarakat kesulitan untuk mendapatkan informasi yang menjadi kebutuhannya. Apa yang dianggap penting oleh sebuah media (baca:pers) belum tentu penting atau dibutuhkan oleh masyarakat.

Homogenitas terhadap pemberitaan menyebabkan ada kelompok-kelompok atau publik tertentu yang tidak diangkat permasalahannya ke permukaan. Padahal ,pada hakikatnya, tugas pers selain memantau kekuasaan juga menyuarakan kaum tak bersuara. Kesamaan pemberitaan menyebabkan kelompok-kelompok minoritas sulit untuk menyuarakan aspirasi mereka.

Berikutnya, efek dari konglomerasi adalah mudah goyahnya independensi seorang wartawan. Karena bertugas memantau kekuasaan maka sudah menjadi tuntutan bahwa pers harus bebas dari kelompok mana pun. Dan saat media melakukan konglomerasi maka independensi pers dapat memunculkan keraguan di mata publik. Contoh kongkrit adalah apa yang menimpa stasiun TV swasta di negeri ini. Walau dari segi pemberitaan bisa dikatakan sangat profesional, namun dalam hal independensi menjadi keraguan publik, karena memunculkan stereotip bahwa dibalik pemberitaannya mengandung unsur “pesanan”.

Teori Keterkaitan Publik
Teori keterkaitan publik terkait tentang bagaimana orang-orang berinteraksi dengan berita. Ada tiga jenis dari keterkaitan publik dalam setiap persoalan, yaitu ada publik yang terlibat, publik yang memiliki pemahaman kuat; publik yang berminat, yang tak punya peran langsung dalam persoalan tapi terpengaruh olehnya; dan publik yang tidak berminat, yang menaruh perhatian kecil saja dan cenderung akan bergabung.

Konglomerasi muncul bisa jadi karena adanya publik (baca:kelompok) tertentu yang berada di wilayah publik yang terlibat. Misal, jika ada seorang pengusaha atau elit politik dan kebetulan dia memiliki modal yang cukup besar untuk masuk dan terlibat dalam dunia pers maka bukan tidak mungkin dia akan menggunakan media massa sebagai kendaraan untuk mendapatkan kekuasaan.

Sekelompok orang yang sadar akan strategisnya kedudukan media massa saat ini dengan ditunjang oleh dana yang besar merupakan benih-benih lahirnya konglomerasi dalam media. Kelompok seperti ini hanya menggunakan media massa sebagai kendaraan untuk melanggengkan kekuasaan atau kepentingan mereka. Dan lambat laun, pers menjadi tumpul dalam mengawasi kekuasaan dan menyuarakan kaum minoritas.

Di sisi lain, inilah awal dari lahirnya jurnalisme pasar. Jurnalisme yang bergerak atas ke hendak dan kemauan pasar dan para pemilik modal. Antara komersialisme dan idealisme harus bisa berjalan beriringan. Mustahil bagi kedua hal ini untuk berjalan sendiri-sendiri. Komersialisme dan idealisme merupakan dua sisi mata uang yang saling memberi arti satu dengan lainnya.**

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s