Wajah Televisi Kita

Di televisi banyak orang-orang sok aksi
Artis, menteri dan politisi berlomba-lomba cari sensasi
Berita tak guna lagi, tidak trendi lagi
Buat apa punya teve?
(Televisi, Naif)

Televisi merupakan sebuah produk hasil dari kemajuan teknologi. Televisi dari mulai kehadirannya pada awal abad ke 20 hingga detik ini telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Pada mulanya kehadiran televisi dikhawatirkan akan menggusur radio yang telah lahir lebih dulu. Namun ternyata kedua media massa tersebut memiliki karakter dan fungsi yang berlainan, tapi tidak bisa dipungkiri kehadiran televisi telah membawa perubahan yang sangat besar terhadap diri kita dan lingkungan sekitar. Ironisnya kehadiran tayangan televisi kian hari justru kian mengkhawatirkan.

Dahulu dunia televisi kita marak dengan tayangan yang berbau mistik dan takhayul. Hampir setiap malam ruang keluarga kita dijejali oleh tayangan hantu yang (katanya) terekam oleh kamera. Namun masa mistik telah berganti menjadi sebuah tayangan reality show. Saat tayangan reality show mereda, muncullah sebuah ajang kontes-kontesan yang dapat membawa ketenaran seseorang menjadi begitu cepat bak sebuah meteor. Begitulah wajah televisi di negeri ini.

Belum lama ini Komisi Penyiaran Indonesia mengumumkan tayangan-tayangan (program) televisi yang tidak layak untuk ditonton. KPI menyebutkan tayangan tersebut banyak mengandung unsur penghinaan dan terlalu banyak mengumbar adegan yang seronok. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Meski KPI telah mengumumkan tayangan tersebut, pihak stasiun televisi masih tetap menayangkannya.

Kehadiran sebuah media massa menurut Harold Lasswell dan Charles Wright setidaknya memiliki empat fungsi yaitu sebagai pengawasan lingkungan, korelasi bagian-bagian dalam masyarakat untuk merespon lingkungan, penyampaian warisan masyarakat, dan hiburan. Media massa sangat berperan sekali sebagai agen pembawa atau penyalur ide-ide dan pesan yang ditawarkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan yang memiliki akses ke arah sana. Sehingga pada akhirnya media massa memiliki posisi yang sangat strategis sekali.

Bila kita saksikan tayangan-tayangan program acara di televisi terlalu kental aspek hiburannya bila dibandingkan aspek pendidikan (edukasi). Tayangan sinetron yang tidak rasional dan cenderung menjerumuskan begitu marak. Acara infotainment seperti tidak mengenal waktu jeda. Tayangan berita lebih mengedepankan unsur sensasional dibandingkan menjalankan perannya sebagai pengawas dan pereda konflik. Dan semuanya bermuara kepada bagaimana mendapatkan rating tertinggi.

Pemerintah kita sudah tidak memiliki wewenang yang mutlak untuk melarang atau meniadakan sebuah tayangan yang dinilai kurang baik. Tidak seperti di masa Orde Baru dimana peran pemerintah begitu besar dalam menentukan sebuah tayangan tertentu melalui Departemen Penerangan. Dengan tidak adanya kontrol terhadap berbagai tayangan acara di televisi maka secara tidak langsung masyarakat dituntut untuk lebih kritis dan peka dalam menilai dan memilih berbagai acara di televisi.

Saat masyarakat tidak memiliki pilihan akan sebuah tayangan yang mendidik dan bermanfaat maka televisi secara tidak langsung telah melakukan pembodohan massal. Anak-anaklah yang akan menjadi korban pertama terhadap tayangan televisi yang tidak mendidik. Patut kita renungi lirik dari grup band Naif, buat apa punya teve?**

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s