Tujuh Rasa Pohon Keimanan

Tidakkah kamu memperhatikan
Bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
Kalimat yang baik seperti pohon yang baik,
Akarnya kuat, dan cabangnya (menjulang) ke langit
Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu
Dengan seizin Tuhannya.
Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia
Agar mereka selalu ingat
(Ibrahim 24-25).

Setiap pekan, di hari Jumat. Khatib senantiasa mengingatkan kepada kita untuk terus menerus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Setiap pekan, di hari Jumat juga, saat Khatib berucap kita sering kali lalai akan hal tersebut karena entah mengapa hembusan angin di siang hari begitu lembut dan membuai pelupuk mata kita. Dengan perlahan, kantuk pun mengikis lantunan surah Ali Imran ayat 102.

Entah berapa banyak Alquran memberikan perumpamaan. Tujuannya sederhana saja, karena manusia itu seringkali sombong, keras, dan pelupa sehingga mereka perlu diingatkan. Analogi, perumpamaan, cerita adalah sebuah media yang sangat tepat untuk mengingatkan dan bahkan menyindir. Karena biasanya kita tidak suka kalau dikritik dan disindir secara langsung (frontal). Maka digunakanlah cara yang halus dan santun untuk selalu mengingatkan kita (manusia). Analogi memainkan peran tersebut. Selain itu juga, analogi hadir agar manusia berfikir.

Melalui kepingan Surah Ibrahim di atas, Allah sekali lagi mengingatkan kepada manusia bahwa kalimat yang baik itu seperti pohon yang baik. Konteks kalimat yang baik dalam penjelasan di Alquran mengatakan bahwa kalimat baik ialah kalimat tauhid, yaitu segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran serta perbuatan baik. Kalimat tauhid, seperti La Ilaha Illallah. Secara tidak langsung hal ini merujuk kepada Pohon Keimanan.

Pohon, apapun itu jenisnya, dari yang primitif (sederhana) sampai yang kompleks, sangat mudah kita temukan. Bila coba kita hitung, saya yakin kalau populasi pohon jauh lebih banyak dibandingkan dengan manusia sehingga amat mudah bagi kita untuk melihat dan menemukan pohon.

Lalu bagaimana dengan Pohon Keimanan? Bisakah dengan mudah kita jumpai pohon keimanan di sekeliling kita? Seperti apakah karakter pohon keimanan itu ?

Bila kita berkunjung ke sebuah taman, akan kita lihat beragam tanaman dan pohon. Ada yang kecil dan besar. Ada yang berbuah. Ada yang rindang dan akarnya menghujam kuat ke bumi. Kehadiran pepohonan di sebuah taman memberikan ketentraman, keteduhan, dan kenyamanan bagi pengunjungnya. Tidak sedikit pula, ada pohon yang dimanfaatkan untuk memayungi sepasang kekasih yang sedang berteduh dari hujan dan terik matahari.

Pohon Keimanan serupa sekali dengan kepingan Surah Ibarahim di atas. Akarnya menancap kuat menuju perut bumi, daunnya rindang, cabangnya melesat menjulang ke langit, dan buahnya semanis madu. Namun yang utama, Pohon Keimanan terus melahirkan buah sepanjang musim. Tak mengenal waktu berbuah. Tahukah engkau bagaimana rasanya buah dari Pohon Keimanan? Ada tujuh rasa dari buah Pohon Keimanan. Rasa ini terejahwantahkan ke dalam perilaku orang-orang yang beriman. Rasa merupakan analogi, representasi dari sikap orang-orang yang beriman. Sudahkah kita memiliki tujuh rasa ini?

Rasa Pertama: Ketaatan yang Lurus
Orang yang berada dalam Pohon Keimanan jelas sekali merupakan orang-orang yang taat. Tidak sedikit pun melenceng dari jalan kebenaran. Jikalau melenceng, dia masih berada pada koridor kebaikan dan taubat menjadi jalan tempat kembali. Khatib pada solat Jumat tidak pernah lupa mengingatkan kepada kita akan hal itu (Al-Imran:102).

Rasa Kedua : Penyambutan yang Dinanti
Jika kita telusuri riwayat hidup Rasulullah saw, kelahiran beliau itu disambut dengan alam semesta. Semesta pun bertasbih akan kehadiran Rasulullah saw. Dinding di kerajaan Kisra bergetar. Api, simbol agama Majusi di Persia yang tak pernah padam seketika redup. Demikianlah kehadiran seorang yang beriman. Ketika hadir dia disambut. Ketika berkumpul dia diperhatikan. Dan ketika pergi, dia selalu dinanti dan dirindukan. Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kehadiran kita di rumah, kantor, kampus telah disambut? Atau justru kehadiran kita justru membawa malapetaka dan kerugian bagi orang lain.

Rasa Ketiga : Keteguhan yang Kuat
Definisi keteguhan ada pada Bilal bin Rabah saat sebongkah batu besar menghujam dadanya. Dan dia hanya berucap “Ahad, Ahad, dan Ahad”. Praktek keteguhan ada pada Salman Al Farisi ketika berjalan ratusan kilometer untuk mencari kebenaran (Islam). Contoh keteguhan ada pada Siti Masyitoh, seorang perempuan di masa Firaun yang direbus dalam kuali besar karena telah menyebut asma Allah. Suatu ketika saat Rasulullah saw melakukan Isra dan Miraj, Rasul mencium aroma yang wangi sekali.
“Wangi apakah ini wahai Jibril?,” Rasul bertanya.
“Ini adalah wangi dari Siti Masyitoh,” jawab Jibril.
Demikianlah kuatnya keteguhan orang yang beriman. Panas terasa bagai hembusan angin sejuk. Jauh terasa dekat. Dan kematian (baca:syahid) begitu dinanti.

Rasa Keempat: Kebahagiaan Tanpa Syarat
Kebahagiaan bukan terletak pada pakaian yang kita pakai, kendaraan yang kita naiki, rumah yang kita huni, dan pasangan yang kita cintai. Kebahagiaan hanya ada dalam hati. Kadang kita merasa bahagia sesaat setelah berhasil mencapai target cita-cita kita. Pun, kita selalu bahagia dengan kehendak Allah yang beraroma positif. Sudahkah kita juga bahagia dengan kehendak Allah yang menurut kita “buruk”? Para sahabat begitu bahagia saat panggilan perang bertalu-talu. Para sahabat begitu senang saat mengobral hartanya demi tegaknya Islam. Para sahabat begitu bahagia ketika mendengar anaknya, suaminya, pamannya, kakaknya, adiknya dihujam oleh panah dan pedang kaum kafir. Sebab, surga begitu dekat saat itu.

Rasa Kelima : Pemisah yang Jelas
Umar bin Khattab mendapat gelar Alfurqon karena bisa membedakan, memisahkan antara yang hak (benar) dan batil (salah). Buah pohon keimanan adalah filter untuk memisahkan kebenaran dan kebatilan. Ciri kebenaran amatlah sederhana, yaitu mudah diterima dan tidak bisa disembunyikan. Jadi pada dasarnya amatlah sederhana prinsip ini. Begitu jelasnya sehingga antara yang hak dan batil tidak mungkin disatukan.

Rasa Keenam : Zuhud
Zuhud adalah saat kita mampu membeli pakaian yang bertebaran di mal-mal Singapura dan Milan tapi kita lebih memilih Gedebage dan Pasar Baru. Zuhud adalah saat kita mampu memiliki sepuluh buah mobil, namun kita lebih memilih memiliki satu buah. Zuhud bukan mengubur dalam-dalam harta kita, tapi menggunakan sebaik mungkin sesuai kebutuhan. Buah dari pohon keimanan adalah tidak berlebih-lebihan walau sebenarnya kita mampu untuk itu. Kontrol atas hawa nafsu.

Rasa Ketujuh : Kesantunan Bertindak
Surah Al-Maun melukiskan dengan terang ciri-ciri orang yang mendustakan agama, yaitu suka menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Surah Al-Maun juga menyebutkan celaka bagi orang yang shalat, yaitu yang lalai terhadap salatnya dan enggan memberi bantuan.
Buah dari pohon keimanan memberikan rasa kesantunan bagi orang disekelilingnya. Santun dalam berucap dan bersikap. Rasulullah saw suatu ketika tidak saja diolok-olok oleh anak-anak dari daerah Thaif tapi juga dilempari batu-batuan hingga menetes buliran darah dari kaki beliau. Saat Rasul beristirahat di bawah pohon, sesosok malaikat menawarkan kepada Rasul untuk menancapkan Gunung Uhud di kepala-kepala penduduk Thaif.
Dengan santun Rasulullah saw berucap, “Mungkin hari ini mereka menolak Islam, tapi belum tentu dengan keturunan-keturunan mereka. Aku berdoa suatu hari kelak keturunan-keturunan mereka akan berada di barisan Islam.”
Mungkin terlampau jauh bila penulis mengambil contoh diatas. Tapi setidaknya bukanlah pekerjaan berat memberikan seutas senyuman kepada pengamen di bis kota saat kita enggan memberikan uang receh dari kantong kita. Saat kita melempari pohon, seketika itu juga jika lemparan kita tepat, buah dari pohon tersebut akan jatuh. Sementara sang pohon tidak mengeluh jika ada batangnya patah. Berikanlah yang terbaik bagi orang disekeliling kita bila perlu orang yang menyakiti kita juga.

10 Mei 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s