Catatan Seorang (tak) Rupawan

Sore itu Bandung begitu enak untuk ditelusuri dengan berjalan kaki. Meski jalanan agak basah dan terdapat genangan air disudut-sudut jalan, tetap saja pesona Bandung saat diguyur hujan tetap nyaman untuk dilakoni, sekedar cari-cari cemilan sambil jalan sore. Wajar saja mungkin, kenapa Bandung disebut sebagai Paris van Java.

Langkah saya terhenti di salah satu toko buku kecil di Palasari. Tanpa sengaja, seperti ada yang menggerakkan, mata saya tertuju pada sebuah buku lusuh. Bagian pinggirnya tertulis Soe Hok Gie Catatan Seorang Demonstran. Bukan gambar necis Nicolas Saputra yang saya temukan tapi betul-betul sosok Soe Hok Gie betulan. Sekilas sosok Gie mirip dengan Harun dalam film Laskar Pelangi.

Ini buku asli nih, pikir saya. Sayang kalau dilewatkan. Langsung terjadi transaksi. Dari harga awal 70 ribu hingga akhirnya jatuh menjadi 20 ribu. Kalau pun si penjual tetap memasang harga 70 ribu sepertinya tetap akan saya beli. Soalnya asli sih. Terbitan LP3S, cetakan pertama Mei 1983 satu tahun lebih tua dari saya. Tapi ya namanya juga Palasari, buku bintang lima harga mahasiswa. Awalnya sang empunya tidak menjualnya karena sudah ada yang memesan. Namun karena tak kunjung datang sang pembeli tersebut, akhirnya buku itu di keluarkan dan jatuh ke tangan saya. Bukan jodoh ente kali, pikir saya.

Hingga detik ini saya masih merasa heran mengapa saya tertarik membeli buku tersebut. Apa karena nilai historisnya (asli penerbit pertama) atau karena sudah diangkat jadi filmnya? Mungkin juga karena saya pernah ikutan demonstrasi sehingga tertarik ingin mengetahui catatan tukang demo kaya gimana sih. Bisa jadi juga motif utama saya membeli karena tidak adanya buku yang serupa Gie (di Indonesia) yang berkualitas dan bermutu.

Zaman eksis

Pada dasarnya buku Catatan Seorang Demonstran berisi kegiatan sehari-hari Soe Hok Gie. Berkunjung ke suatu tempat, mengomentari peristiwa yang terjadi lewat tulisan dan hal-hal harian serta personal lainnya. Semua tidak lepas dari kegelisahan Gie dalam memandang peristiwa disekelilingnya. Media buku menjadi sarana “pelampiasan” Gie dalam mengutarakan ide dan tanggapannya pada saat itu. Buat saya pribadi menulis langsung diatas kertas atau buku tulis memiliki nuansa tersendiri bila dibandingkan dengan mengetik di depan komputer.

Menulis catatan harian sudah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada yang sekedar menuliskan kegiatan sehari-hari, ada yang beropini seputar peristiwa tertentu, apa saja. Di tengah kemajuan teknologi dan gegap gempitannya media informasi sudah banyak kita temui cerita atau buku-buku yang beredar yang mengangkat tema seputar keseharian.

Raditya salah seorang yang melambung berkat catatan harian yang ditulis lewat dunia maya, tepatnya Blog. Hal yang menarik dari Raditya adalah tema yang diangkat cenderung biasa saja dan tidak terlalu penting, tapi tampaknya penerbit punya pandangan lain. Maka meledaklah tema-tema keseharian yang dikemas dengan nuansa humor dan candaan menghiasi dunia penerbitan. Dari blog ke buku. Sebut saja Pidi Baiq, salah satu yang terkenal.

Di tengah dunia yang semakin datar kata Thomas Friedman, dan juga dunia yang semakin terlipat, kata Yasraf A.Piliang, orang-orang dengan beragam profesi dari mulai penulis sampai presiden berlomba-lomba untuk bermuara di hilir popularitas.

Berada dipuncak popularitas sepertinya menjadi impian orang-orang dewasa ini. Lihat saja betapa ingin eksisnya para caleg parpol saat kampanye beberapa waktu lalu. Wajah tembok yang putih polos tertutup rapat oleh pamflet para caleg. Pohon-pohon yang tinggi dan rindang menjadi sandaran baligo, spanduk, dan bendera partai. Jelas itu semua menunjukkan bahwa sebenarnya mereka tidak berani bertatapan langsung dengan masyarakat. Bagi mereka, berdiskusi dengan warga dan berkampanye adalah dua hal yang berbeda.

Ya, semoga saja catatan-catatan seorang yang (tak) rupawan bisa memberi arti dalam keseharian kita. Entah arti positif atau negatif itu anda yang menentukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s