Spirit Of Your Life

Apa sebenarnya yang menjadi motivasi seseorang untuk bisa terus bertahan menghadapi semakin gemerlapannya kehidupan? Saya pikir rasa takut. Ketakutan kita akan menghadapi segala sesuatu yang tampak absurd dan tak terkendali. Untuk itu Rasullulah saw berpesan kepada kita semua untuk tidak terlampau panjang angan-angan. Angan-angan jelas berbeda dengan mimpi, imajinasi atau bahkan visi hidup. Dalam mimpi ada sebuah harapan besar akan segala hal yang ingin kita raih. Lewat rahim imajinasi beragam ilmu pengetahuan lahir menampakkan keanggunannya. Perencanaan matang, kalkulasi fikiran yang positif merupakan perwujudan dari visi hidup. Lalu, apa angan-angan itu?

Jika kita tidak diperkenankan untuk berangan-angan mungkin artinya hal tersebut adalah pekerjaan yang sia-sia. Lalu bagaimana jika angan-angan menjadi kisah nyata? Kalau kita telaah, bukan disitu letak persoalannya. Kalau mau menggunakan terminologi mimpi, imajinasi, dan visi sepertinya telah jelas bahwa angan-angan hanyalah pikiran selintas kita saja. Maksud saya jelas, sesuatu yang sudah diimpikan, diimajinasikan, di-visi-kan (baca: direncanakan) namun tidak lahir sebuah kerja nyata dan karya absolut maka itu masuk dalam kategori angan-angan. Ini artinya bahwa Rasullullah saw tidak menyukai umatnya yang hanya pandai bermimpi, luas berimajinasi dan cekatan bervisi tapi tidak menghasilkan sebuah produk nyata dan kerja absolut.

Muslim yang baik adalah seseorang yang jika telah selesai dalam suatu pekerjaan maka dia akan melangkah untuk melakukan pekerjaan selanjutnya. Dari sini kita bisa melihat bahwa pada hakikatnya tidak ada masa rehat, jeda, dan berleha-leha. Islam menganjurkan kepada pemeluknya untuk terus bergerak, berpindah (hijrah). Nah, agar gerak dan hijrah kita tersistematis dan fokus maka diperlukan sebuah perencanaan. Perencanaan matang yang akan menghasilkan impian, imajinasi dan visi kita menjadi kisah nyata.

Di negeri ini, saya tidak tahu apakah kita sedang berangan-angan atau bermimpi, berimajinasi, bervisi. Lambat sekali. Rasa-rasanya sedikit saja perubahan positif yang sudah kita raih. Setiap kali energi positif datang, seketika orang-orang dengan kekuatan yang jauh lebih besar memadamkannya.

Lalu, betulkah kita takut? Takut dengan ketakutan. Takut dengan ketidakjelasan? Ketakutan-ketakutan, kegelisahan, ketidakpastian adalah sebuah konsep yang membangun seseorang untuk terus berpikir tentang dirinya. Ketakutan menunjukkan dengan terang, seterang matahari, bahwa manusia banyak sekali kekurangannya. Karena itulah Allah mencoba “menakuti” kita dengan kabar tentang dahsyat dan luar biasa menakutkannya kejadian akhirat. Apakah itu tidak cukup bagi kita untuk dijadikan sebagai motivasi dalam hidup ini?

Negeri akhirat adalah sebuah mimpi nyata dan pasti terjadi seperti terbitnya matahari di pagi hari. Jadi mengapa kita masih berangan-angan jika hal yang pasti sudah ada dihadapan kita saat ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s