<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>The Journalist</title>
	<atom:link href="http://aadityabudiman.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aadityabudiman.wordpress.com</link>
	<description>Keyakinan Itu Harus Diperjuangkan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 29 Jun 2011 10:24:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='aadityabudiman.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/33af08ecaad768865916bc4012ac11b6?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>The Journalist</title>
		<link>http://aadityabudiman.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://aadityabudiman.wordpress.com/osd.xml" title="The Journalist" />
	<atom:link rel='hub' href='http://aadityabudiman.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kyai Pun Berkicau</title>
		<link>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/06/29/kyai-pun-berkicau/</link>
		<comments>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/06/29/kyai-pun-berkicau/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jun 2011 10:24:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aadityabudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aadityabudiman.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Majelis Ulama Indonesia sedang membahas persoalan penyelewengan bahan bakar minyak bersubsidi. Saya tidak tahu apa ini sebuah langkah maju atau mundur. Sejauh inikah para ulama kita harus melangkah, sampai-sampai urusan pengunaan bahan bakar harus difatwakan juga. Ikut campurnya ulama dalam hal pengaturan BBM memberikan indikasi bahwa pemerintah sudah tidak sanggup lagi mengurus persoalan energi di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=111&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Majelis Ulama Indonesia sedang membahas persoalan penyelewengan bahan bakar minyak bersubsidi. Saya tidak tahu apa ini sebuah langkah maju atau mundur. Sejauh inikah para ulama kita harus melangkah, sampai-sampai urusan pengunaan bahan bakar harus difatwakan juga. Ikut campurnya ulama dalam hal pengaturan BBM memberikan indikasi bahwa pemerintah sudah tidak sanggup lagi mengurus persoalan energi di negeri yang justru kaya dengan energi.</p>
<p>Ada satu pertanyaan yang menggelitik, pernahkah kita mencoba menanyakan ke MUI untuk mengeluarkan fatwa terhadap kebijakan pemerintah yang terindikasi menyusahkan rakyat? Jadi sederhananya, MUI berinisiatif menilai sebuah kebijakan pemerintah yang akan ditetapkan, apakah halal atau haram. Seperti misalnya, haram atau halalkah menaikkan harga premium? Lalu, haram atau halal kah jika negara tidak mengoptimalkan sumber daya gas yang melimpah di negeri ini? Yang baru-baru ini, apa hukumnya membiarkan rakyat sendiri dipancung di negeri orang? Dan masih banyak pertanyaan halal dan haram yang seharusnya bisa ditanyakan terhadap kebijakan pemerintah. Selama ini kan pemerintah selalu minta persetujuan parlemen, coba ya sekali-kali gitu minta persetujuan MUI.</p>
<p>Saya kira para kyai akan bimbang untuk menilai apakah kebijakan SBY yang dikeluarkan itu halal atau haram. Padahal dalam sebuah hadits cukup terang dijelaskan bahwa salah satu jihad terbesar adalah mengingatkan pemerintahan yang melenceng, kalau ogah disebut pemerintah yang dzholim.</p>
<p>Kalau kita melihat fatwa yang kerap dikeluarkan oleh MUI, saya melihat produk MUI yang berupa fatwa ini kerap menuai protes di masyarakat. Secara logika seharusnya hal ini tidak perlu terjadi, mengingat mayoritas penduduk Indonesia itu ya orang Islam. Penolakan atas produk MUI menunjukkan ada kesenjangan antara produsen fatwa dengan konsumen fatwa. Kesenjangan itu bisa berupa kapasitas keilmuan, pemahaman, mahzab, pengalaman, belum lagi dalil-dalil bisa menjadi alasan kuat bagi seseorang untuk menerima atau menolak fatwa.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan rencana fatwa MUI yang akan mengharamkan bahan bakar bersubsidi seperti premium dan solar haram bagi orang kaya? Layak kah MUI memberi fatwa perihal ini? Lalu apa indikator orang kaya di mata para ulama Indonesia ini?</p>
<p>Saya sendiri tidak mengikuti perihal pemberitaan mengenai fatwa MUI soal BBM ini. Konon katanya Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia meminta MUI untuk mengeluarkan fatwa mengenai larangan memakai bahan bakar bersubsidi bagi orang-orang kaya. Kalau MUI sudah menuruti kemauan Menteri ESDM dengan menyatakan premium haram bagi orang kaya, lalu apa tindakan pemerintah? Premium haram bagi orang kaya? So what gitu lho?</p>
<p>Saya tidak terlalu yakin dengan keluarnya fatwa BBM ini kas negara akan menjadi aman sampai Desember nanti. Sebelum kita memahami fatwa MUI mengenai BBM, saya pikir kita perlu tahu kondisi pemerintah/negara di sektor energi, khususnya BBM. Hal ini perlu agar MUI tidak menjadi bulan-bulanan kejengkelan masyarakat yang sudah apatis dengan fatwa MUI. Ini juga penting untuk menjaga wibawa para ulama yang berada di MUI agar tidak terjebak oleh kepentingan para elit pemerintah yang gak becus memimpin departemen atau lembaganya. Selain itu juga jangan sampai fatwa BBM ini justru jadi bumerang bagi para ulama yang menurut pandangan orang lain tergolong kaya tapi mobilnya masih minum premium. Kan gawat, bisa-bisa dituduh munafik.</p>
<p>Dalam APBN 2011, parlemen sudah mengetok palu perihal BBM bahwa pemerintah hanya diberi jatah mensubsidi premium sebanyak 38,6 juta liter. Jumlah uang yang digelontorkan untuk mensubsidi premium dari APBN memakan lebih dari 80 persen dari total subsidi untuk energi yang berjumlah sekitar Rp187 triliun. Dengan kata lain, sekitar Rp 150 triliun pemerintah mensubsidi premium, termasuk solar.</p>
<p>Apa itu subsidi energi? Subsidi energi adalah bantuan pemerintah di sektor energi yang meliputi listrik dan BBM. Dua elemen ini yang paling banyak menguras APBN pemerintah. Nah, fakta di lapangan menunjukkan ada migrasi penggunaan pertamax ke premium, saya termasuk salah satu pelakunya he..he..he&#8230; Ternyata orang yang diduga kaya juga ikut pindah dari yang semula minum BBM tidak bersubsidi (pertamax) ke premium (BBM bersubsidi).</p>
<p>Kontan, pemerintah galau karena ada kenaikan permintaan premium dari yang semula cuma dijatah 38 juta liter bergerak naik ke 41 juta liter. Artinya pemerintah harus merogoh kocek lagi untuk menutupi kenaikan yang 3 juta liter ini. Dengan kata lain, permintaan premium sudah melebihi jatah seharusnya. Pemerintah sendiri sudah tidak bisa menutupi kegalauan kalau angka 41 juta liter akan bertambah. Kenapa bisa bertambah, karena mobil dan motor di jalanan juga bertambah setiap harinya sementara jatah subsidi gak berubah.</p>
<p>Ada beberapa solusi yang ditawarkan pemerintah, yaitu melakukan pengetatan BBM, ngutang, atau naikin harga premium. Jadi bagi saya sulit masuk logika jika fatwa MUI menjadi bagian dari solusi pemerintah ini. Karena tidak mungkin bagi petugas pom bensin untuk menanyakan perihal agama dari pengguna BBM. Bisa-bisa galau petugas pom bensinnya. Berikut ini sedikit deskripsinya dan ini murni imajinasi saya.</p>
<p>Petugas pom bensin : “Maaf Pak, apa bapak muslim?”</p>
<p>Budi : “Iya, emang kenapa?”</p>
<p>Petugas pom bensin : ”Oh maaf pak, menurut MUI haram hukumnya membeli premium karena ini bersubsidi. Sedang saya lihat bapak termasuk orang kaya”. ( Petugas melihat Budi pakai Toyota Alphard seharga Rp1 miliar)</p>
<p>Budi : “Situ jangan fitnah saya dong. Saya ini orang miskin, yang kaya itu bos saya. Bos saya bilang harus isi premium kalau gak saya di pecat. Situ mau tanggung jawab kalau saya dipecat. Anak saya tiga, bulan depan mau masuk sekolah semua.”</p>
<p>Petugas pom bensin : “Saya juga diperintah atasan Pak, kalau gak dilaksanakan bisa kena SP saya”</p>
<p>Jika percakapan ini ada di setiap pom bensin tentu akan ramai sekali pom bensin. Lalu apa opsi yang diambil pemerintah? Jawabannya tidak mudah. Kalau naikin harga premium bisa kelabakan SBY. Tiap hari jalanan macet karena mahasiswa pada demo (mahasiswa ramenya kalo demo BBM doang). Tukang angkot menjerit. Penumpang berteriak transport nambah tapi gaji teuteup. Pokoknya semua orang pusinglah kalau BBM naik lagi. Yang paling praktis sih ya ngutang lagi, kalau gak ke IMF, Paris Club, Bank Dunia. Atau kalau mau yang lebih elegan ya buat Surat Utang Negara.</p>
<p>Tapi saya acungkan jempol buat Pak Agus Martowardojo, Menteri Keuangan yang gokil abis ini. Nampaknya doi gak kekurangan akal buat ngutak-ngatik kas negara yang udah mentok ini. Wacana lama yang sudah bergulir sebenarnya, yaitu di masa Sri Mulyani. Opsi tersebut adalah perampingan dan pensiun dini bagi Pegawai Negeri Sipil. Hayoh siapa di sini yang PNS? Anda niat jadi PNS untuk kejar uang pensiun atau apa? Apa anda mengeluh sudah 10 tahun gaji gak naik? Atau anda jadi PNS agar lancar dan lebih pede meminang doi di depan mertua? Hanya anda yang tahu jawabannya. Tapi dari penerawangan saya, sekelas departemen yang ada di pusat atau Jakarta saja, kinerja PNS terlihat kurang gereget. Ini tidak semua lho. Ke kantor jam 9, abis Ashar langsung pulang. Di beberapa departemen tampak para petugasnya melayani masyarakat hanya dengan menggunakan sandal jepit. Entahlah. Tapi kalau kita mau realistis, hampir 60 persen APBN habis hanya untuk bayar PNS. Bahkan di daerah 90 persen APBD-nya hanya untuk bayar gaji PNS. Terus kapan bangun jembatan sama jalannya? Jadi, saya pikir wajar kalau masyarakat biasa yang paling banyak bayar pajak mempertanyakan evaluasi atas kinerja PNS. Jangan tersinggung yah&#8230;</p>
<p>Di zaman twitter kaya gini, seharusnya kinerja departemen sudah bisa lebih efektif dan fleksibel. Segala data saat ini sudah memasuki masa soft file dengan kata lain sedikit campur tangan manusianya. Biarkan sistem informasi dan teknologi yang bekerja. Selain akan hemat tenaga, teknologi ternyata cukup efektif memangkas birokratis dan bisa mengurangi korupsi pula, selain menghemat APBN juga. Jadi wacana perampingan dan pensiun dini PNS ini jangan ditunda lagi. Sudah saatnya kita melihat PNS pulang berdesak-desakan di busway jam 20.00 dengan pegawai berdasi kantoran. Menarik kan jika di departemen pemerintah juga diterapkan 2 waktu shift kerja.</p>
<p>Jadi menurut hemat saya, sebelum MUI mengeluarkan fatwa halal atau haram mengenai suatu hal, ada baiknya para kyai ini melihat realitas sosial di masyarakat dan mendalami kondisi pemerintah yang sebenarnya. Ini demi wibawa para ulama yang mengeluarkan fatwa agar fatwa yang dihasilkan murni datang dari kegalauan pribadi sang ustadz karena melihat kondisi masyarakat yang makin pontang-panting mengejar rezeki. Saya pribadi tidak tega melihat ulama-ulama kita dipojokkan setiap kali fatwa dikeluarkan. Di sisi lain, tidak ada keraguan dalam diri saya terhadap para ulama dalam melakukan proses ijtihad karena di tangan merekalah warisan luhur Rasulullah saw di jaga. Hah, pusing ya ngurus negara? Tapi kok anehnya orang-orang pada ngantri pengen jadi presiden.</p>
<p>Wallahualam Tangerang, 29 Juni 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aadityabudiman.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aadityabudiman.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aadityabudiman.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aadityabudiman.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aadityabudiman.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aadityabudiman.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aadityabudiman.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aadityabudiman.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aadityabudiman.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aadityabudiman.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aadityabudiman.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aadityabudiman.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aadityabudiman.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aadityabudiman.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=111&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/06/29/kyai-pun-berkicau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/686a47efc23cb0e600891f11a2bd604f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aadityabudiman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Little Wonder</title>
		<link>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/06/01/little-wonder/</link>
		<comments>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/06/01/little-wonder/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 12:31:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aadityabudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bingkai Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aadityabudiman.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[  Manusia tidak hidup di masa lalu. Manusia juga tidak bisa melangkahi takdirnya di masa depan. Namun manusia akan terus bergerak. Arah dan jalannya saja yang berbeda. Kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, pembangunan yang mampu diraih hari ini dikarenakan manusia terbuka akan ruang-ruang perubahan. Manusia senantiasa menjelajah untuk membuka pintu-pintu rahasia yang selama ini terkunci rapat. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=106&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>  </strong><br />
Manusia tidak hidup di masa lalu. Manusia juga tidak bisa melangkahi takdirnya di masa depan. Namun manusia akan terus bergerak. Arah dan jalannya saja yang berbeda. Kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, pembangunan yang mampu diraih hari ini dikarenakan manusia terbuka akan ruang-ruang perubahan. Manusia senantiasa menjelajah untuk membuka pintu-pintu rahasia yang selama ini terkunci rapat. Rasa ingin tahu manusia membawanya menuju sayap-sayap baru penjelajahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Fortuna Favi Fortus</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai seorang yang lahir dan menetap di Indonesia, sungguh sangat banyak potensi di negeri ini. Di lihat dari segala aspek, tidak ada negara yang sekaya dan selengkap Indonesia. Hampir segala hal bisa dipenuhi di negeri ini. Kemajuan ilmu pengetahuan dengan teknologi informasi yang mengikutinya, tidak perlu banyak waktu bagi kita untuk tahu segala potensi yang tersembunyi di Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun ada kalanya sesuatu yang indah menyimpan sejuta misteri. Diperlukan sejuta usaha pula untuk mengungkap kemisterian tersebut. Mereka yang berasal dari Barat, memiliki satu kata untuk merangkum segala kemisterian yang ada pada negeri-negeri Timur, entah itu negeri di Timur Tengah, Afrika, dan Asia, termasuk Indonesia. Eksotik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keeksotikan Timur hari ini sepertinya sedang meredup. Percikan api revolusi yang diawali di Tunisia lambat laun merambat ke Mesir dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Hingga detik ini sebenarnya Barat masih merasa gundah akan kondisi ini mengingat Timur Tengah adalah produsen terbesar minyak bumi. Energi kehidupan bagi beberapa negara di Eropa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demokrasi atau kita bisa menyebutnya dengan kebebasan berekspresi menjadi barang mahal di negara-negara yang masih menganut kerajaan sebagai kiblat pemerintahannya. Yaman, Yordania, Arab Saudi pantas merasa galau dengan percikan api demokrasi ini. Tapi Timur tidak melulu berbicara soal negara-negara Timur Tengah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hari ini masyarakat dunia tampak terkejut dengan kemajuan Cina dan India. Dalam konteks sejarah, Cina dan India adalah pemberi warna utama bagi perkembangan budaya-budaya di Timur. Cina dan India hari ini seperti mengerti bahwa mereka tidak bisa hidup di masa lalu yang menurut buku-buku sejarah begitu cemerlang dan aduhai. Mereka juga sadar bahwa mustahil bisa mendahului takdir Tuhan. Tuhan hanya memberikan janji masa depan yang manis kepada mereka yang mau berusaha dan mengubah dirinya sendiri bukan kepada mereka yang berpangku tangan dan duduk manis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cina dan India bergerak. Saya yakin bahwa budaya lokal dan sejarah bangsa mereka yang besar menjadikan masyarakat kedua negara ini mampu bersaing dengan Barat. Cina dan India bergerak atas dasar sejarah bangsa mereka yang besar tapi mereka tidak hidup didalamnya. Dahulu Cina dan India berbasis kerajaan dan hari ini Cina berkiblat kepada sosialis dan India mengarah ke demokrasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kedua negara ini perlahan tapi pasti sudah membuat geregetan para pelaku ekonomi. Lihat saja sekitarmu, hampir semua barang di rumah kita dihiasi oleh produk Cina. Dari kosmetika sampai mainan anak. Lain hal dengan India. India mencoba fokus dari sisi sumber daya manusia dan teknologi informasi. India adalah negara pengekspor doktor dan sarjana. Di Indonesia, pelaku bisnis dari negeri para dewa ini sedang berekspansi di sektor perbankan. Raganya tampak seperti Tom Cruise tapi jiwanya Shahruk Khan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suatu hari saya berpikir bahwa antara Cina, India, dan Indonesia memiliki nasib sejarah yang sama, tapi yang mendasar adalah bahwa ketiga negara ini memiliki takdir yang berbeda, khususnya Indonesia diantara Cina dan India. Cina dan India hari ini mampu berdiri tegap dihadapan negara Barat kontras dengan Indonesia. Cina dan India memiliki arah yang jelas untuk menjemput takdirnya, namun Indonesia terlihat masih gamang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada sebuah catatan prediksi yang menarik dari sebuah lembaga keuangan internasional, yaitu Bank Dunia (World Bank). Pada 2025 nanti India, Cina, Brazil, Korea, Indonesia akan menguasai lebih dari 50 persen kegiatan ekonomi global. Empat negara diawal sudah menjemput setengah dari takdir (baca: prediksi) itu pada hari ini, 2011. Bagaimana dengan Indonesia ?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ya, bagaimana dengan Indonesia? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Bagi mereka (praktisi, pengamat dll) yang bergelut di dunia ekonomi, bisa jadi lebih dari setengahnya akan mengatakan suram dan tidak jelas. Selebihnya pragmatis dan sedikit yang mencoba untuk sekedar berpikir positif atau optimis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya sendiri beranggapan yang dibutuhkan oleh Indonesia adalah sedikit keajaiban. Saya tidak tahu takaran dari kata ’sedikit’ tapi kuncinya adalah keajaiban. Fortuna favi fortus,  keberuntungan (keajaiban) memihak kepada mereka yang berani. Mereka itulah para pemimpin, pengambil kebijakan negeri ini. Pemimpin Indonesia yang merupakan kunci utama dari keajaiban ini jelas terlihat kurang berani. Jadi yang Indonesia butuhkan untuk mengejar Cina dan India adalah sedikit keberanian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedikit keberanian untuk menggantung para koruptor. Sedikit keberanian untuk memecat kader partai yang bertopeng arjuna tapi berwajah rahwana. Sedikit keberanian untuk melakukan kontrak ulang dengan Freeport dan korporasi internasional. Sedikit keberanian dari bawahan untuk mengkritik atasannya yang menyimpang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedikit keberanian untuk menguras semua aset para pengemplang pajak. Sedikit keberanian untuk memberi akses kesehatan dan pendidikan yang luas kepada orang miskin. Dan masih banyak sedikit keberanian lainnya yang jika di kalkulasi tidak menjadi sedikit lagi karena sudah menjadi keberanian yang bersifat nasional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya sendiri sebenarnya sedang mempraktekkan sedikit keberanian ini, yaitu dengan cara menulis sesuatu yang sebenarnya tidak sepenuhnya saya kuasai. Beresiko memang dan besar kemungkinan kamu akan langsung menghapusnya. Berhubung menulis sudah menjadi salah satu misi saya hal itu menjadi sesuatu yang tidak penting, yang terpenting adalah bagaimana memupuk terus rasa keberanian itu dan membuka ruang diskusi. Esok saya akan kembali lagi dengan tulisan yang sedikit lebih baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Around here, however, we don’t look backwards for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new things, because we are curious and curiosity keeps leading us down new paths. </em></p>
<p><em>Walt Disney   </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Tangerang, Rabu 1 Juni 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>* Welcome June and please remember this carefully: I won’t go home without write because I am a journalist.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aadityabudiman.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aadityabudiman.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aadityabudiman.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aadityabudiman.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aadityabudiman.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aadityabudiman.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aadityabudiman.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aadityabudiman.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aadityabudiman.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aadityabudiman.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aadityabudiman.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aadityabudiman.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aadityabudiman.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aadityabudiman.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=106&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/06/01/little-wonder/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/686a47efc23cb0e600891f11a2bd604f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aadityabudiman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasi Padang dan Catatan Pinggir</title>
		<link>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/06/01/nasi-padang-dan-catatan-pinggir/</link>
		<comments>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/06/01/nasi-padang-dan-catatan-pinggir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 12:29:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aadityabudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bingkai Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aadityabudiman.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[”Sial, lama sekali hanya untuk menilai kinerja sebuah organisasi yang bekerja setahun penuh,” pikirku. Mahasiswa-mahasiswa yang berjas almamater biru tua sedang sibuk berlobi ria untuk memutuskan apakah menerima atau menolak hasil LPJ organisasi yang usai dibacakan. Di lantai dasar, para pengurus terdengar riuh, penuh tawa. Kilatan kamera tampak bersahutan. Sesekali suara mereka merendah. Aku sendiri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=104&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>”Sial, lama sekali hanya untuk menilai kinerja sebuah organisasi yang bekerja setahun penuh,” pikirku.</p>
<p>Mahasiswa-mahasiswa yang berjas almamater biru tua sedang sibuk berlobi ria untuk memutuskan apakah menerima atau menolak hasil LPJ organisasi yang usai dibacakan. Di lantai dasar, para pengurus terdengar riuh, penuh tawa. Kilatan kamera tampak bersahutan. Sesekali suara mereka merendah. Aku sendiri lebih memilih duduk di lantai atas, sambil berbincang keadaan kampus tempat saya menghabiskan dua tahun lebih untuk merajut pendidikan. Padahal sebenarnya hanya untuk merenggut secarik ijazah yang bertuliskan S,Ikom. Jarang-jarang kami berbincang soal kondisi politik kampus di fakultas kami. Maklum, lagi musim pemilihan presiden mahasiswa. Ya, lumayanlah, hitung-hitung membunuh kebosanan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pergantian hari terjadi. Jarum jam terus bergerak. Tidak ada satu pun mahkluk yang bisa menghentikan pergeseran jarum jam. Sehebat, sekuat, setajir apa pun dia. Yang pendek menunjuk ke arah satu, yang panjang ke arah lima. Dan ini pagi buta. Saat yang benderang bagi sang malam. Menunggu memang pekerjaan yang amat membosankan. Alhamdulillah, Allah itu Maha Adil, kebosananku selama satu jam lebih ini dihiasi oleh tingkah laku dia yang rada kekanak-kanakan yang tak pernah bosan saat kupandangi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tidak ada obat yang paling mujarab dan ampuh untuk membasmi penyakit kebosanan selain buku. Kalau Anda tinggal di Indonesia dan sedang membuat janji dengan seseorang atau ikut dalam acara apapun, saranku bawalah sesuatu yang bisa menghibur  untuk membunuh kebosanan akibat lama menunggu. Dan malam itu Caping (Catatan Pinggir) Goenawan Mohamad (GM) menjadi obat penolongku saat perbincangan politik kampus sudah usang dan kami sama-sama bosan membahasnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Baca apa?”, sahut temanku. Aku hanya menyodorkan buku GM. Hanya butuh sekejap bagi kami untuk berbincang soal GM.</p>
<p>”Punya temen kosan, beli di Senen. Edisi lama sih.” sambung aku.</p>
<p>”Dia itu (GM), kalau kata Ignas Kleden, skeptis dan gak ngasih solusi.” sahut temanku.</p>
<p>Pada percakapan selanjutnya temanku bilang, GM itu cuma main di permukaan saja.</p>
<p>”Tapi saya kalau baca dia selalu ada inspirasi baru” sambut temanku.</p>
<p>”Satu hal yang disuka temen saya soal GM, tulisannya bagus, tapi tingkah nanti dulu.” celetuk aku.</p>
<p>”Iya,” dengan senyum yang merekah di bibir temanku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di malam yang biasa, semestinya aku sudah berada di atas kasur yang empuk dengan selimut yang menghangatkan tubuhku walau agak tengik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Dunia modern sudah berhasil membuat kita lupa. Akibatnya kita nyaman tinggal di dunia. Coba lihat Rasullah saw. Dia cuma tidur di atas pelepah daun kurma padahal tidak sulit bagi Rasul untuk tidur diatas kasur dengan rajutan emas. Kita sendiri, begitu nyaman dengan kasur empuk, peralatan kebersihan dan <em>tetek bengek</em>. Sebenarnya akar permasalahan kita adalah kita lupa akan hakikat kita yang sebenarnya. Kita itu mau ngapain, dari mana mau ke mana? Dan dunia yang modern udah bikin kita nyaman. Kenyamanan itu yang bikin kita lupa akan hakikat kita sebenarnya,” begitu komentar temanku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku merasa kita berdua begitu klop, langsung nyambung kalau ngomong, gak peduli mau memulai dari tema apa. Maksudku aku dengan temanku.</p>
<p>Pembicaraan kami terhenti dengan pengumuman Laporan Pertanggung Jawaban oraganisasi yang diterima atau ditolak. Singkat aja, LPJ-nya diterima, titik.</p>
<p>”Udah tidur dikosan saya aja,”kataku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di perjalanan, perbincangan kami berlanjut.</p>
<p>”Saya sebenernya belum nemuin temen yang bisa diajak bicara kaya ginian,” sahut temanku.</p>
<p>Dalam hati aku pun senada dengannya. Ternyata latar belakang pengalaman kami bisa dibilang sama, serupa. Di mulai dari sastra, lalu Islam, dan berlanjut ke ranah filsafat. Tiga hal itu yang membuat irisan kesamaan di hati kami. Aku tidak memungkiri kalau kami juga seorang yang introvert. Pikir kami, kalau kalian ingin masalah kalian tuntas dan pengetahuan kalian gak bodoh-bodoh amat, peganglah tiga hal itu:Islam, sastra, dan filsafat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Posmodernisme, penggiat Islam yang takut mempelajari filsafat, strukturalis, GM, Lekra, Manikebu, menjadi pengiring perjalanan kami ke dari kampus menuju kosan. Dan inilah puncak ke kegalauan kami berdua.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Ini nasi kalau gak dimakan sekarang bisa basi,” sahutku.</p>
<p>Betul juga, rasa asam sudah terasa di sambal. Tapi bumbu rendang masih kuat terasa. Pukul dua kami lumat nasi padang itu.</p>
<p>“Gak ada matinya nih nasi, biar udah jam dua pagi masih aja enak. Kayanya enak kalau punya isteri dari orang Minang, atau setidaknya dia bisa masak khas Minang-lah,” celetukku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Menurut saya kafir itu adalah orang yang tahu kebenaran tapi dia gak mau melaksanakan kebenaranya itu. Itu kafir. Abu Jahal sangat pas disebut demikian. Permasalahan kita adalah kita kesulitan membuat orang atheis untuk percaya sama Tuhan. Saya juga bingung. Buku-buku yang dibuat, ucapan ulama untuk meyakinkan mereka gampang dibantahkan oleh orang-orang atheis. Mungkin pertama kali yang harus dilakukan orang atheis adalah dia harus percaya dulu sama Tuhan, janganlah mengumpulkan, mencari pembuktian argumen, seputar Tuhan dulu. Tapi berangkat dulu dari nol (0). Coba baca buku <em>Dan Malaikat Pun Bertanya</em>, Jeffry Lang. Argumen orang Islam mentah, buntu. Tak berarti apa-apa di hadapan sang atheis. Siapa sebenarnya yang salah. Apa karena jawabannya yang tidak memuaskan? Atau jangan-jangan pertanyaannya yang salah,” komentar temanku menghiasi ruang kamar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedikit demi sedikit, nasi padang dan lalapan singkong kami makan dengan lahap. Ternyata nafsu makanku belum redup. Serasa makan sahur di bulan Ramadhan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pasrah dulu. Bukankah memang demikian salah satu definisi Islam, pasrah, berserah diri kepada Allah, pikirku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Kalau berbicara agama jangan melulu pakai akal. Pakailah hati,” dia menambahkan.</p>
<p>”Itu&#8230;.itu&#8230;bingung saya,” lanjut temanku diiringi gigitan daging.</p>
<p>”Coba bayangkan, saat seorang yang tidak memeluk agama dan dia dihadirkan ke dunia dalam keadaan menderita, kelaparan, dan kekeringan. Setelah itu dia mendapat kabar bahwa kalau dia tidak memeluk agama maka dia akan disiksa selamanya di nereka.</p>
<p>Kenapa, kenapa? Yang gak habis pikir itu disiksa selamanya di akhirat setelah dia juga menderita di dunia.”</p>
<p>(Astagfirullah,ampuni aku dan temanku ya Rabb, jika kami berlebihan dengan ucapan kami malam ini!)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Teman, aku tahu sebenarnya kamu pintar. Terimakasih, kamu sudah memperlihatkan kepintaran plus kegalauanmu kepadaku. Kurasakan, kau sebenarnya cerdas, tapi kecerdasan itu kau tutup rapat-rapat ketika berhadapan dengan orang lain. Mungkin ini ciri orang cerdas, dia agak sulit menyusun ucapannya secara sistematis. Acak-acakan. Tapi beruntung aku bisa memahaminya. Aku pun ketularan sulitnya dalam membuat tulisan ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jarum jam menyentuh angka tiga.</p>
<p>”Socrates bilang, saat kita memikirkan sesuatu, sesuatu itu pasti memiliki makna,” kata temanku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pikiranku langsung tertuju pada kembang malamku. Hampir setiap hari aku memikirkan dia. Sedang apa dia? Apa dia memang cukup bermakna bagiku?</p>
<p>Jangan berhenti berpikir teman. Semakin kau berpikir kau akan menemukan kegundahan. Semakin gundah dirimu, semakin bagus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kita jangan egois untuk menghakimi seorang atheis, karena mereka sedang mencari sinar kemuliaan Tuhan. Kita harus bisa menghargai proses dia mencari sinar Kemuliaan itu, bukan berdebat meyakinkan dia untuk percaya Tuhan. Itulah sari pati kegundahan sahabatku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Ya Allah yang menggenggam hati ini. Sangat mudah bagi-Mu untuk membalikkan hati kami. Lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat. Selimuti jiwa kami dengan  ketenangan dan cukupi kami dengan pemberian-Mu. Buat kami ridho dengan ketentuan-Mu.    </em></p>
<p align="right">
<p>Jatinangor, 12 Mei 2007</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>* Rewrite: Tangerang, 1 Juni 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aadityabudiman.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aadityabudiman.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aadityabudiman.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aadityabudiman.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aadityabudiman.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aadityabudiman.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aadityabudiman.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aadityabudiman.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aadityabudiman.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aadityabudiman.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aadityabudiman.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aadityabudiman.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aadityabudiman.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aadityabudiman.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=104&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/06/01/nasi-padang-dan-catatan-pinggir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/686a47efc23cb0e600891f11a2bd604f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aadityabudiman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Is That True, Bad News Is a Good News ?</title>
		<link>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/05/29/is-that-true-bad-news-is-a-good-news/</link>
		<comments>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/05/29/is-that-true-bad-news-is-a-good-news/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 May 2011 12:11:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aadityabudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aadityabudiman.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Tiga bulan bukanlah rentang waktu yang cukup untuk menyimpulkan benar atau tidaknya pameo di atas. Perjalanan empat tahun di kursi perkuliahan pun tidak memberikan jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan diatas. Dari pengamatan dan sedikit pengalaman di lapangan, saya mencoba memberi batasan antara berita baik dan berita buruk. Harapannya agar ada secercah jawaban meski masih terasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=102&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiga bulan bukanlah rentang waktu yang cukup untuk menyimpulkan benar atau tidaknya pameo di atas. Perjalanan empat tahun di kursi perkuliahan pun tidak memberikan jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan diatas. Dari pengamatan dan sedikit pengalaman di lapangan, saya mencoba memberi batasan antara berita baik dan berita buruk. Harapannya agar ada secercah jawaban meski masih terasa samar-samar. Batasan tersebut berupa konteks dan besarnya efek dari berita yang akan dibuat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hingga detik ini, saya pribadi masih awam dengan dunia jurnalisme. Menurut penuturan mentor saya, jurnalis bukanlah sebuah pekerjaan atau pun jenjang karir, tapi suatu proses belajar yang panjang. Setiap hari adalah sesuatu yang baru dan jurnalis selalu dan akan selalu dituntut untuk belajar sepanjang hidupnya jika dia sudah memutuskan akan menjadi seorang jurnalis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam kasus saya, misalnya. Tiga bulan ke belakang isu-isu politik dan hukum menjadi makanan sehari-hari. Pos pantau saya di sekitar DPR, Kemendagri, Kemenlu, Kemenhan, dan Mabes TNI. Pos-pos yang basah dengan berita dan penuh dengan konflik kepentingan. Fakta di lapangan, sebelum memutuskan akan mengambil sebuah peristiwa, saya dibenturkan oleh sebuah pertanyaan soal, seberapa pentingkah peristiwa tersebut untuk diliput ? Jawaban yang muncul adalah seberapa besar masalah dan efek yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai contoh ketika kasus penyanderaan awak kapal Sinar Kudus di perairan Somalia beberapa waktu lalu. Dalam konteks hak asasi manusia negara memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan warganya. Dari sisi militer sebuah strategi pembebasan tidak bisa menjadi konsumsi publik. Ironisnya, seorang jurnalis berdiri di belakang kepentingan publik dan publik sangat menginginkan informasi mengenai kabar para awak kapal. Maka jalan tengahnya adalah mendesak pemangku kepentingan untuk bertindak cepat dan efektif. Dalam hal ini bukan berita “buruk” yang dicari, tapi upaya untuk terus menerus menekan para pemangku kepentingan agar melakukan segala cara untuk membebaskan para awak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berikutnya bergeser ke kasus anggota DPR Arifinto yang kepergok melihat video mesum saat sidang paripurna. Peristiwa ini hampir mendekati ke arah bad news is a good news. Sebenarnya bukanlah hal baru saat anggota DPR melakukan aktivitas lain ketika sidang biasa atau sekelas paripurna. Namun tema seperti seks masih menjadi sesuatu yang primadona apalagi subjeknya adalah pejabat atau orang terkenal. Masih ingat kasus Ariel, Luna Maya, Cut Tari?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebenarnya masih banyak contoh lain namun yang terpenting adalah bahwa dalam isu politik dan hukum batas antara berita baik dan buruk sangatlah tipis, layaknya angka 11 dan 12.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Masih seputar pengalaman saya. Sekarang kita bergeser ke isu ekonomi. Sudah seminggu ini saya bergeser untuk meliput isu ekonomi. Sepintas saya menilai, tema ekonomi adalah seputar prediksi, optimisme, ekspansi, dan stabilitas neraca keuangan, baik perusahaan maupun negara. Di sini saya bisa melihat lebih dekat arah kebijakan ekonomi di negara kita. Saya pun menemukan hal yang tidak jauh berbeda, yaitu ketika saya harus memutuskan peristiwa apa yang layak untuk diketahui oleh publik. Pertanyaan paling mendasar adalah masih mengenai seberapa penting peristiwa tersebut dan seberapa besar efeknya bagi publik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika pemerintah mengaku sudah tidak kuat lagi untuk memberikan subsidi bagi rakyatnya, publik harus benar-benar tahu dan paham kondisi keuangan (ekonomi) negara. Jika pemerintah tidak memiliki alasan yang kuat untuk pencabutan subsidi maka kita harus mendesak agar negara harus lebih giat dan keras lagi bekerja untuk menambah digit APBN.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai contoh, pengusaha dan petani di daerah mengeluh kepada pemerintah karena tidak ada perkembangan dalam aspek energi dan infrastruktur, seperti jalan dan jembatan. Bagaimana mau mengirim hasil bumi kalau akses jalan dan jembatan tidak ada.  Sementara di sisi lain, pemerintah berteriak APBN kita yang sekitar Rp1200 triliun habis terserap hanya untuk gaji PNS, remunerasi, subsidi BBM, listrik, kesehatan, dan pendidikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nah, aspek berita “buruk” tampak lebih bersinar jika kita memakai kacamata ekonomi mikro (lokal) dibandingkan dengan ekonomi makro (nasional/global). Sebenarnya masih banyak contoh kasus dalam dunia ekonomi yang bisa diangkat. Tapi saya khawatir anda akan menjadi galau, seperti saya, jika mengetahuinya. Itu pun kalau masih ada ruang kesadaran dalam diri kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>So, it that true bad news is a good news</em>? Dari pengalaman singkat saya jawabannya adalah sometimes bad news is a good news. Namun pada akhirnya kita tidak akan berbicara soal baik dan buruk karena jurnalisme berbicara soal kebenaran. Aspek baik dan buruk berkelindan dalam ruang etika dan kepantasan yang multitafsir. Sementara aspek kebenaran bergerak dalam segala ruang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun, seperti yang diutarakan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, kebenaran adalah sebuah konsep yang paling membingungkan dalam dunia jurnalisme. Maka dari itu Goenawan Mohamad berujar tugas seorang jurnalis hanya mengetuk pintu kebenaran dan sisanya biarkan publik yang masuk ke ruang kebenaran. Tujuan utama dari jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan publik agar mereka bisa hidup merdeka dan mampu mengatur diri sendiri<sup>1</sup>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tangerang, Sabtu 28 Mei 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<p><sup>1. </sup> Kovach, Bill. Tom Rosenstiel. Elemen-Elemen Jurnalisme, ISAI, 2003. Jakarta</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aadityabudiman.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aadityabudiman.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aadityabudiman.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aadityabudiman.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aadityabudiman.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aadityabudiman.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aadityabudiman.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aadityabudiman.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aadityabudiman.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aadityabudiman.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aadityabudiman.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aadityabudiman.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aadityabudiman.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aadityabudiman.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=102&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/05/29/is-that-true-bad-news-is-a-good-news/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/686a47efc23cb0e600891f11a2bd604f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aadityabudiman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tongkat Sihir Ayah</title>
		<link>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/05/29/tongkat-sihir-ayah/</link>
		<comments>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/05/29/tongkat-sihir-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 May 2011 12:11:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aadityabudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aadityabudiman.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Semburat sinar mentari menabrak dinding kamar Gun. Tidak seperti biasanya, pagi ini Gun terasa berat untuk sekedar membuka kedua kelopak matanya. Sudah dua hari terakhir ini dengan gencar deadline tulisan mengejarnya. Bulan ini majalah dimana Gun bekerja akan meluncurkan edisi spesial dan Gun ditunjuk menjadi salah satu koordinator. &#160; Suara ketukan pintu berkali-kali merongrong aktivitas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=100&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semburat sinar mentari menabrak dinding kamar Gun. Tidak seperti biasanya, pagi ini Gun terasa berat untuk sekedar membuka kedua kelopak matanya. Sudah dua hari terakhir ini dengan gencar deadline tulisan mengejarnya. Bulan ini majalah dimana Gun bekerja akan meluncurkan edisi spesial dan Gun ditunjuk menjadi salah satu koordinator.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suara ketukan pintu berkali-kali merongrong aktivitas tidur Gun.”Gun, bangun. Kamu belum subuh Nak. Jangan sampai ayah yang mengetuk pintu kamarmu,” ucap Ibu.</p>
<p>Irama keluhan yang keluar dari hidung Gun terdengar oleh Ibu yang berada di balik pintu. Untuk memastikan kalau Gun sudah benar-benar bangun, Ibu kembali mengetuk pintu. Kali ini dengan nada lebih tinggi dan frekuensi yang cepat.</p>
<p>”Iya Bu, Gun udah bangun kok,” jawab Gun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitu membuka pintu kamar, Gun disambut oleh sorot mata Ibu yang tidak seperti biasanya. ”Yang benar saja Gun, masa sudah jam segini kamu belum Subuh,” ujar Ibu. Ibu sebenarnya tahu kalau Gun baru dua jam memejamkan mata dan merebahkan tubuhnya di ranjang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ibu dan Ayah tidak hanya tegas dalam mendidik anak-anaknya tapi juga mereka adalah tim yang kompak. Terutama ayah, pernah suatu sore Gun dan Ipul, si bungsu, terlambat pulang ke rumah. Semua anggota keluarga sudah selesai solat Magrib berjamaah kecuali mereka berdua. Dan sudah menjadi aturan bersama kalau sehabis Magrib, Ayah  selalu memberikan sedikit ceramah dan seluruh anggota keluarga wajib ikut. Walhasil, akibat keterlambatan Gun dan Ipul yang sore itu beralasan habis bertanding sepakbola, ayah memainkan tongkat sihirnya kepada mereka berdua. Ayah memang disiplin dalam mendidik anak-anaknya, tapi ayah juga cukup demokratis untuk menerima setiap argumentasi dan kritikan yang dirasa masuk akal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku sendiri pernah menerima lecutan tongkat sihir dari ayah. Waktu itu aku ketahuan membolos tidak mengaji selama tiga malam berturut-turut. Wak Haji pikir, guru mengajiku, aku sedang sakit tapi ternyata ketika hal itu di konfirmasi ke ayah keadaanku baik-baik saja. Kontan akibat ulah nekatku, 50 pecutan tongkat sihir ayah bolak-balik mendarat di bagian bokong, punggung, dan kedua kaki dan tanganku. Seminggu aku tidak masuk sekolah akibat tongkat sihir ayah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kami berlima, Agam, Sarah, Wiguna, aku, dan Saiful, biasa menyebut rotan yang digunakan ayah untuk menghukum kami dengan sebutan tongkat sihir ayah. Aku yang pertama kali menyebutnya demikian. Tongkat itu sendiri sebenarnya adalah sebuah rotan.  Ukuran tidak besar, hanya satu centi diameternya. Panjangnya sendiri 60 centimeter. Rotan sangat pas digunakan untuk mencambuk mengingat karakteristik rotan yang lentur dan tidak mudah patah. Soal rasa, jangan tanya bagaimana perihnya dipukul oleh tongkat sihir ayah. Sekali kena pukul, segaris warna merah akan segera terukir di atas kulit kami.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gun segera bergegas menuju kamar mandi. Dengan tertunduk Gun mencoba menghindari tatapan ayah yang sedang sibuk membolak-balik koran pagi.</p>
<p>”Kalau setiap hari kamu kesiangan, lebih baik cari pekerjaan yang lain Gun,” ucap ayah. Tanpa berkata apa-apa Gun bergegas masuk kamar. Aku yang masih mengeringkan diri sehabis lagi pagi, agak kikuk mendengar lontaran ayah. Tanpa pikir panjang, aku segera pergi mandi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sekarang rumah kami hanya dihuni oleh empat orang saja. Ayah, ibu, aku dan Wiguna. Agam dan Sarah sudah berkeluarga dan mereka berdua lebih memilih berpisah dari kami. Semula ayah sempat menawarkan kepada Sarah dan suaminya agar tinggal saja bersama kami. Tapi setelah mengetahui Kak Rendra, suami Sarah, dipindahtugaskan ke luar pulau, tidak ada pilihan lain bagi Sarah untuk berpisah dengan kami. Sementara Saiful si bungsu, sedang menjalani masa-masa kuliahnya di Yogyakarta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Mati gua. Pagi-pagi udah kena semprot ayah. Padahal mata masih sepet gini lagi,” celetuk Gun. “Salman, Wiguna cepet turun. Sarapan sudah siap nih,” teriak ibu dari lantai bawah. Aku yang sudah selesai merapihkan diri segera bergerak menuju ruang makan.</p>
<p>“Ayo cepat sarapannya. Mana si Wiguna, kok belum turun tuh anak,” tanya ibu.</p>
<p>“Tidur lagi kali Bu. Lagian kalau ngantuk sama lapar, aku pasti lebih pilih tidur aja Bu,” jawabku sekenanya.</p>
<p>“Nanti kalau sudah selesai makan, tolong kasih roti sama susu ini ke kakakmu yah,” ujar Ibu.</p>
<p>“Hmm&#8230;,” jawabku.</p>
<p>Beberapa menit kemudian aku segera naik ke lantai atas. Membawa semua pesanan ibu untuk Wiguna. “Eh Gundul. Cepet buka pintu. Makanan dari ibu nih. Aku udah telat,” kataku. Lebih dari dua menit aku menunggu jawaban dari Gun. Sudah empat kali ku ketuk pintu kamarnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lelah menunggu ketidakpastian, aku menaruh dengan sembarang sarapan Gun di depan pintu kamarnya. Aku lalu bergegas menuju taman belakang. Memanaskan sepeda motorku. Penasaran dengan lagak Gun yang tidak biasa, aku kembali memeriksa sarapan yang kutaruh di depan kamarnya. Aku langsung terperanjat saat dua lapis roti bakar dan segelas susu tuntas tak berbekas. Yang bersisa hanya gelas kosong dengan remah-remah roti diatas piring kecil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Huh..dasar gundul. Lapar apa kesetanan kau,” teriakku.</p>
<p>“Eehh&#8230;makin hari makin berani yah lawan kakakmu ini,” balas Gun yang langsung menampakkan diri. Aku terkejut. Tak kusangka celetukanku akan segera dibalas.</p>
<p>“Eh, udah bangun bos?”</p>
<p>“Man, ayah udah berangkat kerja?” tanya Gun. “Belum bos. Situ sudah lupa yah kalau ayah biasa berangkat jam 7.30. Ada apa emang, takut disemprot ayah lagi yah. Makanya bos jangan kesiangan. Rasain tuh. Beruntunglah kau, tongkat sihir ayah sudah musnah. Kalau tidak habislah kau,” balasku.</p>
<p>“Tutup mulutmu. Eh, ada yang mau aku obrolin sama kamu. Balik jam berapa hari ini?” tanya Gun.</p>
<p>“Agak malem kayanya. Ada apa sih?” tanyaku penasaran.</p>
<p>“Sudahlah nanti saja,” ujar Gun sambil menutup kembali pintu kamarnya.</p>
<p>Aku menuruni dua anak tangga sekaligus dengan dipenuhi rasa penasaran.</p>
<p>“Yah, Bu berangkat dulu. Assalamualaikum,” teriakku.</p>
<p>“Waalaikumsalam. Dasar bocah tengil. Umur gak mengubah kebiasaan buruk sejak kecilnya. Kayanya aku harus mencari rotan yang lebih besar dan panjang nih,” jawab ayah.</p>
<p>“Sudahlah, ayah sendiri tahu kan Salman itu anaknya emang begitu,” bela ibu.</p>
<p>Aku hanya tersenyum saat mendengar bisikan ayah dan ibu. Tanpa pikir panjang aku langsung membawa lari sepeda motorku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiranku mundur ke masa ketika aku dan keempat saudaraku masih tinggal bersama dalam satu atap. Masa-masa yang tidak pernah akan kami lupakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semua tetangga kami tahu kalau ayah adalah seorang yang dikenal disiplin dan tegas. Pak Wira tetangga sebelah kami yang seorang anggota Angkatan Darat saja sampai geleng-geleng kepala melihat bagaimana cara ayah mendidik kelima anaknya. Suatu senja, selepas Magrib berjamaah ayah melontarkan kalimat pamungkas yang membuat aku merinding dibuatnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Usiamu sudah 9 tahun Man. Itu artinya, mulai hari ini hingga usiamu 17 tahun, kamu harus lebih displin dalam soal waktu. Seperti yang sudah-sudah, jika ada yang melanggar tiga aturan yang sudah ayah dan ibu sepakati, sanksi akan ayah jatuhkan. Tiga aturan itu adalah wajib mengaji, tidak berkelahi, dan berbohong,” terang ayah. Aku hanya menunduk lesu ketika ayah mengumumkan hal itu tepat di hari ulang tahunku. Menurut penuturan Wiguna, sehabis ayah mengumumkan peraturan itu, semalaman aku mengigau berteriak-teriak kalau aku tidak mau dicambuk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kami tidak bisa memilih hukuman jenis lain, selain yang ayah tawarkan. Jika kami tidak sepakat dengan cara mendidik ayah dan hukuman yang diberikan, kami dipersilahkan untuk pergi bersekolah di pondok pesantren. Bagi kami lebih baik di cambuk tongkat sihir ayah daripada harus terkungkung bertahun-tahun bersama kaum sarungan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku masih ingat malam ketika peraturan hukuman bagi Wiguna mulai diberlakukan, Wigunalah satu-satu orang yang memprotes keras.</p>
<p>“Hari gini main cambuk-cambukan,” teriak Wiguna.</p>
<p>“Tadi ibu juga sempet bilang ke aku kalau dulu sebetulnya ibu gak setuju sama hukuman ayah ini,” ujar Sarah.</p>
<p>“Ini gak adil,” kata si bungsu tidak mau kalah.</p>
<p>“Ngomong apa sih kamu Pul. Sok adil kamu,” ejekku.</p>
<p>“Hus&#8230;Sudahlah. Kita jalanin aja. Kakak yakin ayah gak akan tega nyakitin anaknya sendiri. Kita liat aja nanti. Toh sampai sekarang kakak belum pernah kena hukum dari ayah. Itu artinya kalian juga bisa,” tutur Agam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku memikirkan lontar Ipul. Memang terdengar tidak adil. Aku sendiri kadang merasa iri melihat perlakuan teman-teman kami yang tidak terlalu ketat dalam hal peraturan di rumah. Saat aku bertanya ke teman-teman di rumah dan sekolah, hanya di keluarga kami saja yang ada piket rumah di hari libur. Pukul 21.00 malam televisi harus sudah padam dan kami harus sudah berada di ranjang pada pukul 22.00 . Pukul 4 pagi kami harus bangun. Terus menerus seperti itu hingga kami menginjak usia 17 tahun. Kami merasa segala aturan ayah yang mengatasnamakan disiplin merupakan cara halus untuk merebut masa anak-anak dan remaja kami. Tidak aneh jika kami menganggap angka 17 sebagai angka keramat. Angka 17 juga bermakna kebebasan bagi kami berlima.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sepeda motorku terhenti tepat di bawah lampu lalu lintas yang saat itu sedang berwarna merah. Angka lalu lintas perlahan tapi pasti berjalan mundur. Tepat ketika angka lampu bergerak menuju angka 20 kendaraaan dibelakangku mendesak membunyikan klakson. Kendaraan lainnya melakukan hal yang sama.</p>
<p>“Santai dong bos, masih 20 tuh angkanya,” teriakku.</p>
<p>“Jangan banyak cingcong lo. Udah jalan aja. Depan lo kan kosong gak ada mobil,” teriak seorang pria dibelakangku.</p>
<p>“Yeh&#8230;maksa. Makanya kalau mau lebih awal bangun pagi dong,” balasku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pikiranku kembali terlempar pada suatu senja ketika aku ketahuan berbohong bolos mengaji selama tiga malam. Jalu, kucing pejantan kami satu-satu saksi yang melihat langsung bagaimana tongkat sihir ayah mondar-mandir dari kulitku. Dengan gemetar ayah mendaratkan rotan dibetisku. Cambukan itu sudah memasuki hitungan yang ke-40. Sepuluh cambukan terakhir. Lima mendarat di tangan kananku, sisanya di sebelah kiri. Sesekali si Jalu mengibas-ngibaskan ekornya tanda dia sudah merasa bosan dengan apa yang dilihatnya. Aku sendiri berusaha tersenyum getir. Menahan rasa panas yang menyebar di seluruh tubuhku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Malam harinya aku tertidur dengan posisi tengkurap. Seluruh punggung, betis, dan tanganku berubah menjadi garis-garis simetris berwarna merah.</p>
<p>Tak disangka keesokan harinya aku demam. Ayah pikir aku demam biasa, tapi ternyata makin siang demamku semakin tinggi. Tanpa pikir panjang ibu segera melarikanku ke rumah sakit. Akhirnya aku terkapar selama lima hari di rumah sakit. Dokter yang memeriksaku hampir-hampir tidak percaya melihat guratan merah di sekujur tubuhku. Menurut dokter, aku bisa saja kehilangan nyawa jika terlambat dibawa ke rumah sakit. Ternyata cambukan ayah tidak sengaja mengenai titik saraf di punggung. Menurut dokter itu berbahaya untuk anak seusiaku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku sendiri sempat mendengar sayup-sayup dari suara Kak Sarah yang pada saat itu sedang membesukku. Dia mengatakan kalau ayah langsung menangis seketika usai memberikan cambukan kepadaku. Menurut pengakuan Kak Sarah, ayah menangis cukup lama di dalam kamar. Ketika aku menerima hukuman cambuk tersebut, di rumah hanya ada aku, ayah, Sarah dan si Jalu. Kebetulan ibu sedang pergi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku memarkirkan sepeda motorku tepat di bawah pohon beringin di belakang kantor. “Masih bersisa 30 menit, cukup untuk mempersiapkan bahan presentasi,” gumamku. Aku langsung berlari menuju ruang rapat besar. Semua peralatan sudah siap, aku hanya perlu mengeceknya saja. Pagi ini adalah giliran aku mempresentasikan rancangan bangunan untuk gedung pemerintahan. Tanpa terasa waktu satu jam yang dialokasikan panitia untuk mempresentasikan usulanku berlalu. Aku diminta menunggu hasilnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hari kedua di rumah sakit ketika aku terkapar lemah akibat cambukan ayah, kami sekeluarga berkumpul. Hari itu ayah memutuskan untuk menghentikan hukuman cambuk kepada kami. Aku bertanya, “Kenapa harus dihentikan yah, aku ikhlas kok menerima hukuman ayah,” terangku.</p>
<p>Ayah tidak menjawab pertanyaanku. Sejak hari itu, kami berlima sudah tidak melihat tongkat sihir ayah lagi. Ibu bilang, ayah sudah membakarnya. Sejak hari itu pula ayah menjadi agak pendiam dan hanya bicara seperlunya saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pukul 20.30 aku tiba di rumah. Dentuman irama musik berdesakan keluar dari kamar Gun. Rasa penasaranku terhadap Gun masih tersimpan rapi. Selepas makan malam aku langsung menuju kamar Gun.</p>
<p>“Ada apa sih, kok keliatan galau banget bos?” tanyaku</p>
<p>Pertanyaanku dibalas dengan pertanyaan oleh Gun. “Kalau aku resign gimana menurutmu?” tanya Gun sambil mengurangi volume musik di komputernya. Aku mencari posisi duduk yang nyaman untuk mencerna maksud dari pertanyaan Gun. Cukup lama kami terdiam.</p>
<p>“Woi, menurutmu kalau aku resign gimana?” tanya Gun.</p>
<p>“Kenapa emang? Aku pikir kamu sudah menikmati kerjaanmu. Lagian pekerjaan ini bukannya cita-citamu sedari dulu Gun? Sudahlah. Istiqoroh saja seminggu ini. Kalau masih mentok, bicara langsung sama ibu. Kamu masih inget pesen ayah, kan?”</p>
<p>“Jadikan sabar dan solat sebagai senjatamu,” jawab Gun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Malam semakin pekat, aku dan Gun semakin asyik mengobrol. Tentang masa kecil, pekerjaan, hingga soal jodoh. Saking asyiknya kami mengobrol, tanpa sadar suara kami merambat hingga kamar ibu. Beberapa saat kemudian ibu menghampiri kami berdua.</p>
<p>“Belum tidur kalian?”</p>
<p>“Belum Bu. Ini Bu, Wiguna lagi curhat katanya dia mau kawin minggu depan,” celotehku. Mendengar kata kawin, ibu langsung tersengat. Malam itu kami bertiga akhirnya mengobrol ngalor-ngidul. Obrolan kami dihentikan oleh suara kentongan petugas ronda malam.</p>
<p>“Sudah lama yah kita gak ngobrol kaya gini,” ujar ibu.</p>
<p>“Iya juga yah. Terakhir kali waktu Kak Sarah lebaran di rumah ini,” sautku.</p>
<p>“Sudah tidur sana. Oya, jangan sampai Subuhmu telat lagi Gun”.</p>
<p>“Siap Bu,”</p>
<p>“Bu. Aku sayang ibu,” ucapku. “Aku juga deng,” lontar Gun.</p>
<p>Ibu hanya tersenyum menatap kami berdua. Suara kentongan terdengar satu kali pertanda kalau waktu menunjukkan pukul 01.00. Kami pun terlelap. Berharap mimpi indah menjadi penghias aktivitas tidur kami.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tangerang, 14 Mei 2011.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aadityabudiman.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aadityabudiman.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aadityabudiman.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aadityabudiman.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aadityabudiman.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aadityabudiman.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aadityabudiman.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aadityabudiman.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aadityabudiman.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aadityabudiman.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aadityabudiman.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aadityabudiman.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aadityabudiman.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aadityabudiman.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=100&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/05/29/tongkat-sihir-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/686a47efc23cb0e600891f11a2bd604f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aadityabudiman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Damai</title>
		<link>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/05/29/damai/</link>
		<comments>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/05/29/damai/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 May 2011 12:10:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aadityabudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aadityabudiman.wordpress.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Kematian adalah suatu keniscayaan. Sama seperti dua hal lainnya, yaitu jodoh dan rezeki. Allah sendiri sudah menjamin dan tertulis dengan jelas dalam kitab-Nya. Baik orang muslim, non-muslim, dan seorang atheis sekalipun ternyata percaya dengan adanya kematian. Tapi ada perbedaan perspektif di antara seorang yang beragama dengan atheis dalam memandang tema kematian, yaitu sebuah pertanyaan besar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=98&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kematian adalah suatu keniscayaan. Sama seperti dua hal lainnya, yaitu jodoh dan rezeki. Allah sendiri sudah menjamin dan tertulis dengan jelas dalam kitab-Nya. Baik orang muslim, non-muslim, dan seorang atheis sekalipun ternyata percaya dengan adanya kematian. Tapi ada perbedaan perspektif di antara seorang yang beragama dengan atheis dalam memandang tema kematian, yaitu sebuah pertanyaan besar mengenai situasi, keadaan atau ada apa setelah kematian. Apakah kematian hanya sekedar berhentinya fungsi organ tubuh atau ada situasi lain dibalik itu semua ?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beberapa waktu lalu seorang teman melansir laporan dari media luar negeri. Dalam laporannya tertulis bahwa seorang Fisikawan asal Inggris, Stephen Hawking, tidak mempercayai adanya surga. Penulis novel terkenal ini juga berpendapat bahwa kematian yang melanda manusia tak beda dengan rusak atau matinya seperangkat komputer. Dengan kata lain, tidak ada masa ketika manusia mati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perspektif yang ditawarkan oleh Stephen Hawking bukanlah sesuatu yang baru. Di masa dimana hal-hal yang gaib dapat hadir dalam keseharian manusia, seperti masa Nabi Ibrahim as hingga Nabi Isa as, manusia sudah mempertanyakan konsep kehidupan setelah kematian. Rasulullah saw juga diuji dengan pertanyaan yang sama oleh kaum kafir Quraisy yang mempertanyakan, apakah tulang-belulang mereka (baca:kafir Quraisy) akan disatukan kembali suatu hari nanti? Dengan jelas dan detail Alquran menjawabnya. Patut dicatat bahwa yang menjawab adalah Allah bukan Rasul. Salah satunya ada pada Al-Insyiqaq dan Al-Infitar. Selain itu masih banyak surah dan ayat-ayat yang menjelaskan mengenai kehidupan pasca kematian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam tulisan ini saya tidak berniat mempertentangkan pemikiran seorang yang mempercayai akhirat dengan seorang atheis karena kedua sudah berdampingan sejak zaman Nabi Ibrahim hingga saat ini. Namun yang mencatatan menarik buat saya pribadi adalah ada keterkaitan antara pandangan Stephen Hawking dengan isi khutbah Jumat pada siang tadi dan kabar dari seorang sahabat, yaitu mengenai kematian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada Senin (16/3) kemarin, saya dengan beberapa kawan pergi mengunjungi seorang sahabat yang sedang sakit. Awalnya dia sangat membutuhkan pendonor darah dan kebetulan golongan darah saya seragam dengannya. Begitu saya tiba di rumah sakit, ternyata kebutuhan darah untuknya sudah mencukupi. Saya langsung diajak untuk melihat kondisi dia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pertama kali melihat, saya langsung merinding. Dari balik kaca saya melihat beberapa selang menyelimutinya. Menurut pengakuan kawan saya, dia sudah hampir tiga hari tak sadarkan diri akibat di bawah pengaruh obat bius. Keluarga sendiri, kata kawan saya, sudah ikhlas menerima berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Saya agak terkejut mendengar pernyataan itu. Apakah tidak ada kemungkinan untuk sehat, pikir saya. Kata teman, penyakit yang dideritanya cukup langka dan sekali lagi dia hanya bisa berujar kalau seluruh keluarga sudah siap dengan situasi apa pun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah sekian lama berjuang melawan penyakit yang dideritanya, pada Kamis (19/3) pukul 14.00, dalam perjalanan menuju Blok-M saya menerima pesan singkat yang berisi bahwa kawan saya yang kemarin saya jenguk telah meninggal dunia. Semoga Allah merahmatinya dan memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kabar atau situasi mengenai bencana, kematian, kesulitan dan sebagainya seringkali membuat manusia menjadi lebih berserah dan merendah. Seperti ada suatu dorongan dalam diri untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang Maha Besar yang memberikan peringatan kepada kita. Khatib pada solat Jumat tadi mengatakan bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi. Baik seorang muslim maupun atheis mempercayai itu. Namun yang menjadi persoalan, terutama bagi kita yang seorang muslim dan sepenuhnya mempercayai akhirat, adalah dalam kondisi seperti apa kita akan menyongsong kematian, khusnul khatimah atau suul khotimah?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sang khatib memberikan tiga jalan kepada jamaah agar kami semua senantiasa mengingat kematian. Khatib sendiri tidak memberikan alasan yang nyata tentang mengapa kami harus mengingat kematian. Tapi secara tersirat khatib ingin mengingatkan bahwa penting bagi kita semua untuk mempersiapkan diri (membekali) menyambut kematian yang kedatangannya hanya Allah yang tahu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nah, dalam perjalanan untuk mengisi kehidupan di dunia ini, manusia seringkali lupa tentang hakikat mengingat kematian. Manusia cenderung akan menghargai kehidupan, kesehatan, dan kebahagiaan ketika tiga hal tersebut sirna dari hadapannya. Agar kita tidak lalai itulah Sang Khatib memberikan tiga jalan untuk mengingat kematian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pertama adalah ziarah dan atau takziyah. Kabar mengenai seseorang yang meninggal akan membangkitkan alam bawah sadar kita bahwa sebenarnya kita menetap didunia yang serba fana. Ziarah dan takziyah merupakan peringatan dini kepada kita sekaligus juga bisa dijadikan indikator sudah seberapa banyak dan ikhlas ibadah kita kepada Allah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kedua zikir. Zikir terbesar adalah solat. Lafaz zikir yang terbaik adalah Laaillahailallah. Ada sepenggal riwayat yang mengatakan bekerjalah engkau layaknya engkau akan hidup sepanjang masa dan beribadahlah engkau seperti engkau akan mati. Dari sini jelas bahwa ibadah dan segala aktivitas spiritual kita kepada Allah merupakan alarm untuk mengingatkan bahwa kita pasti mati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketiga adalah taubat. Taubat adalah aktivitas membersihkan diri dari segala dosa. Taubat adalah perisai bagi kita untuk meminimalisir dari kemungkinan Suul khotimah. Karena manusia tidak pernah tahu akan mati dalam kondisi seperti apa, maka aktivitas taubat bisa menjadi suatu permulaan untuk menghadapi suatu keniscayaan yang tidak tahu kapan akan datang. Logika sederhananya, beban dosa yang kita bawa setidaknya tidak melebihi bekal kebaikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar (Al-Hadid, 21) </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wallahualam</p>
<p>Tangerang, Jumat 20 Mei 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aadityabudiman.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aadityabudiman.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aadityabudiman.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aadityabudiman.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aadityabudiman.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aadityabudiman.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aadityabudiman.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aadityabudiman.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aadityabudiman.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aadityabudiman.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aadityabudiman.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aadityabudiman.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aadityabudiman.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aadityabudiman.wordpress.com/98/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=98&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/05/29/damai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/686a47efc23cb0e600891f11a2bd604f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aadityabudiman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekotak Buku Untuk Jamilah</title>
		<link>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/04/05/sekotak-buku-untuk-jamilah/</link>
		<comments>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/04/05/sekotak-buku-untuk-jamilah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 13:11:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aadityabudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bingkai Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aadityabudiman.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Seumur-umur belum pernah Nyak Zaenab sama Babe Ali kompak berduaan pusing tujuh keliling mikirin kelakuan Jamil yang berubah drastis akhir-akhir ini. Terakhir kali Nyak dan Babe pusing waktu Jamil meraung-raung kaya sirine mobil jenazah minta pengen kuliah. Jeritan Jamil sirna saat nyak dan babe memberi restu beserta sehektar tanah yang dijual untuk modal kuliah Jamil. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=95&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seumur-umur belum pernah Nyak Zaenab sama Babe Ali kompak berduaan pusing tujuh keliling mikirin kelakuan Jamil yang berubah drastis akhir-akhir ini. Terakhir kali Nyak dan Babe pusing waktu Jamil meraung-raung kaya sirine mobil jenazah minta pengen kuliah. Jeritan Jamil sirna saat nyak dan babe memberi restu beserta sehektar tanah yang dijual untuk modal kuliah Jamil. Namun dengan syarat Jamil harus bisa kuliah di Kampus Negeri Depok. Singkat cerita pusing nyak dan babe sirna ketika jamil berhasil masuk jurusan arkeologi di Kampus Negeri Depok. Jurusan yang sangat sesuai dengan tampang Jamil yang kaya fosil berusia jutaan tahun. Hitam keling, kurus kering, dengan rambut keriting.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebenarnya tampang Jamil gak jelek-jelek amat sih. Meski di mata temen-temennya Jamil tak setampan Romeo, tapi di mata Nyak dan Babe, Jamil setampan Arafiq penyanyi dangdut tersohor di zaman 80an. Allah memang Maha Adil, wajah Jamil memang meleset dari arti namanya, Jamil berarti tampan, tapi Jamil sangat terkenal di Kampus Negeri Depok. Disinilah kunci kesuksesan Jamil. Sadar bahwa dia kuliah di jurusan yang tidak masuk top chart hits perusahaan-perusahaan terkenal, Jamil memperkaya dirinya dengan mengasah soft skillnya. Jamil sangat aktif di berbagai organisasi kampus. Karena sering wara-wiri di organisasi dan kepanitiaan itulah Jamil jadi dikenal banyak orang. Di tahun ketiga kuliahnya di Kampus Negeri Depok, Jamil sudah masuk nominasi sebagai mahasiswa paling tersohor di Kampus Negeri Depok.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jamil masih inget pesen Nyak sesaat sebelum Jamil pergi di hari pertama kuliahnya.</p>
<p>“Jamil, pegang omongan Nyak yah. Meski dari SD sampe SMA elo sering diejek sama temen-temen elo karena tampang lo pas-pasan, jangan pernah elo masukin ejekan itu ke dalem hati yah. Allah cuma liat ketaqwaan hamba-Nya bukan tampang. Jadi perindah akhlak elo, Insya Allah berkah semua kerjaan elo,” ujar Nyak Zaenab.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jamil hanya menjawab dengan senyum terindah yang belum pernah diberikan kepada siapa pun. Senyum yang hanya untuk Nyak dan Babe aja. Senyum seindah rembulan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Akhirnya padam juga kesabaran Nyak. Gak tahan ngeliat tingkah polah Jamil yang berubah, Nyak berinisiatif memulai obrolan.</p>
<p>“Ada ape sih lo Mil? Gak biasanya kaya gini. Dari kemaren Nyak liatin kerjaan elo bengong mulu. Elo sakit Mil? Tanya Nyak.</p>
<p>“Jamil sehat kok Nyak,” jawab Jamil.</p>
<p>“Bener elo sehat?”</p>
<p>“Iya Jamil sehat wal afiat,” jawab Jamil sekenanya. Tahu kalau jawaban Jamil dicicil kaya orang kredit panci akhirnya Jamil beringsut masuk kamar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selang seminggu tingkah Jamil makin aneh. Jamil jadi suka nyanyi di kamar mandi. Sering ngaca. Koleksi parfumnya semakin banyak. Gak cuma beraroma malaikat subuh yang sering dipake solat jumat tapi sekarang sudah berjejer aroma sporty, maskulin, relax, dan profesional. Tiap hari punya tema yang berbeda. Senin misalnya, karena kuliah Jamil padet maka parfume aroma profesional dia semprot. Aroma maskulin disemprot pada Selasa karena agenda Jamil penuh dengan rapat kepanitiaan. Aroma sporty dipakai Rabu karena Jamil akan maen futsal. Sementara Kamis dan Jumat, Jamil lebih memilih aroma relax karena mendekati weekend.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebusuk-busuknya bangkai ditutupi pada akhirnya tercium juga, begitulah peribahasa berucap. Sekuat tenaga Jamil berusaha menutupi perasaannya akhirnya bobol juga. Cerita bermula dari kunjungan Rusman ke rumah Jamil. Jamil yang sedang asyik-asyiknya ngupil dikejutkan oleh teriakan Rusman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Assalamualaikum&#8230; Mil, gua denger elo lagi ngegebet si Jamilah yah? Wah selamat bro, gua ngedukung dah kalo elo jadian sama dia,” teriak Rusman. Belum sempat menjawab ucapan salam, Rusman kembali berteriak.</p>
<p>“Jadi kapan elo mau nembak dia? Saran gua sih jangan lama-lama, soalnya gua denger si Rizal ngebet juga tuh sama dia,” ucap Rusman. Suara Rusman yang pecah dan cempreng kaya air masuk minyak penggorengan yang panas, tanpa bisa dicegah menembus dinding kamar Nyak dan Babe Jamil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Kenapa sih lo?” tanya Rusman yang keheranan melihat tampang Jamil yang seketika pucat pasi.</p>
<p>“Ada Babe sama Nyak elo yah?”</p>
<p>“Telat lo,” jawab Jamil.</p>
<p>“Udahlah Mil. Gak baek kalau suka sama cewe diumpetin. Yang ada ntar malah muka elo jerawatan tuh,” ujar Rusman.</p>
<p>“Elo gak kasian sama Nyak Babe? Nyak elo tuh pusing liat anaknya berubah sama suka bengong terus,” celetuk Rusman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jamil bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa Rusman yang jarang ke rumah Jamil bisa tahu kalau Nyaknya lagi pusing. Secepat kilat Jamil menarik kesimpulan kalau kedatangan Rusman siang ini adalah atas perintah dan skenario Nyak. Kedatangan Rusman tidak saja untuk menghibur Jamil yang sedang membuncah perasaannya tapi juga untuk menjawab rasa ingin tahu Nyak kalau ternyata Jamil lagi jatuh cinta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Mil minggu depan si Jamilah gebetan elo bakal ulang tahun. Nah gua pikir ini waktu yang tepat buat elo kasih perhatian ke dia,” ujar Rusman. Seperti jatuh dari tangga terus tertimpa durian busuk Jamil langsung tersadar dari lamunannya..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Serius lo?” tanya jamil yang mencoba menjaga wibawanya.</p>
<p>“Yaelah kapan sih gua serius sama lo. tapi gua gak pernah bohong kan selama ini sama elo?” cetus Rusman. Jamil hanya menatap lurus wajah Rusman.</p>
<p>“Usul gua sih mending elo kasih sesuatu buat dia. Kayanya ngasih buku buat hadiah ulang tahun Jamilah bagus tuh,” ujar Rusman tanpa pikir panjang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keesokan harinya Jamil sudah bangun sebelum ayam jantan berkokok. Semalaman Jamil merenungkan petuah dari Rusman dan petuah itu benar adanya. Jamil memutuskan untuk menghadiahi Jamilah seperangkat buku. Tanpa memikirkan buku apa yang cocok, Jamil lantas bergegas mengayuh sepeda kesayangannya. Kebetulan hari ini ada pemeran buku-buku Islam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah lelah berkeliling puluhan stand buku, Jamil terhenti di salah satu sudut stand. Nah kayanya ini buku yang pas buat Jamilah.</p>
<p>“Assalamualaikum.., cari buku apa Mas?” sapa seorang penjaga stand.</p>
<p>“Mau liat-liat dulu Mbak,” jawab jamil sekenanya.</p>
<p>“Coba ini deh mas. Ini buku best seller banget, tadi banyak banget ibu-ibu pengajian pada beli,” tawar sang penjaga stand.</p>
<p>“Yang bener aja mbak, masa saya beli buku Tata Cara Mengurus Jenazah sih,“ protes Jamil.</p>
<p>“Oh, maaf mas,”</p>
<p>“Ada buku ini gak? Dengan malu-malu dan pipi merah merona Jamil menyerahkan secarik kertas.</p>
<p>Dengan senyuman tipis dan agak malu, penjaga stand menyerahkan buku yang diminta oleh Jamil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan hati yang lebih riang dan lebih gembira, Jamil mengayuh sepedanya. Sepanjang jalan tak henti-hentinya Jamil menebar senyuman ke semua orang yang dilewati. Sepanjang hari itu segala hal yang ditemui Jamil tampak serba indah. Setibanya di rumah, perasaan gembira yang dirasakan Jamil menular ke Nyak dan Babe. Setiap tutur kata yang keluar dari lidah Jamil begitu santun dan merdu. Hati Nyak dan Babe senang bukan kepalang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keesokan harinya, Jamil menjalani aktivitas kuliah seperti biasanya. Matahari sore yang hangat menyiram seluruh kulit Jamil yang sedang bersandar di bawah pohon. Bagai disiram kuah baso yang panas, Jamil terkejut ketika mendengar ada suara perempuan memanggilnya. Dan ternyata perempuan itu adalah Jamilah dengan didampingi Sarah teman dekatnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Bang Jamil ke mana aja sih, kok dihubungi gak jawab-jawab? tanya Jamilah. Sadar karena sedang berhadapan dengan dua orang perempuan, Jamil mencoba mengalihkan perhatiannya ke rerumputan yang tidak sedang bergoyang.</p>
<p>“Maaf Hp-nya ke silent,” dengan suara ngebass, bahu tegak, dan dada dibusungkan Jamil menjawab.</p>
<p>“Ada apa yah?” masih dengan suara yang ngebass.</p>
<p>“Aku cuma mau kasih tahu, kalau tenda yang di pesen untuk Debat Calon Presiden Mahasiswa nanti ternyata harganya berubah naik, gimana dong?”</p>
<p>“Oh soal itu. Biar nanti saya yang urus. Ada lagi gak yang mau disampein?” tanya Jamil.</p>
<p>“Udah kok itu aja,” jawab Jamilah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Segera setelah menyampaikan maksudnya mereka berdua bergegas meninggalkan Jamil seorang diri di bawah pohon.</p>
<p>“Kenapa sih Bang Jamil, kok kaya komandan upacara aja ngomongnya sama kita?” tanya Sarah keheranan.</p>
<p>“Aku juga gak tahu. Emang gitu kali gayanya kalau ngobrol,” jawab Jamilah.</p>
<p>“Masa sih? Perasaan dulu biasa-biasa aja deh.</p>
<p>“Kesambet jin pohon kali,” ucap Jamilah sambil terkekeh-kekeh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sesuai perhitungan Jamil jika hadiah buku untuk Jamilah dikirim hari ini, berarti besok pasti sudah sampai. Jamil membungkusnya dengan kardus dan ditutupi oleh kertas karton cokelat. Jamil sengaja tidak mencantumkan alamat pengirim. Ini dilakukan agar menghasilkan efek misterius. Sesuatu yang disukai oleh perempuan menurut artikel yang ada di majalah sobek yang ditemui Jamil pas nunggu kereta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lantunan lagu yang tersiar di radio terinterupsi oleh berita yang mengabarkan telah terjadi ledakan bom. Televisi pun menayangkan berita yang sama seputar ancaman teror bom yang ditujukan ke orang-orang terkenal. Dengan ditemani tatapan bulan purnama Jamil melepas lelah didipan depan rumahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rapat terakhir untuk membahas acara debat calon presiden mahasiswa dipimpin oleh Jamil selaku wakil ketua panitia. Masing-masing koordinator memberikan laporannya. Ketika tiba laporan dari departemen acara, Jamil terkejut karena bukan Jamilah yang melaporkan. Seketika itu juga Jamil langsung memotong.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Lho kok Jamilah gak ada, kemana dia?”</p>
<p>“Ciiee&#8230;ciiee&#8230;kok cuma jamilah sih yang ditanyain?”celetuk Rusman. Kaget dengan celetukan Rusman, seluruh panitia langsung menatap tajam Rusman.</p>
<p>“Emangnya Bang Jamil gak tahu kalau tadi pagi tuh ada polisi yang dateng ke rumah Jamilah,” terang Sarah yang laporannya dipotong Jamil.</p>
<p>“Ada apa emang?”</p>
<p>“Jadi tadi tuh ada kiriman paket misterius gitu ke rumah Jamilah. Karena takut di kira bom akhirnya Jamilah lapor ke polisi.”</p>
<p>“Terus benar paketnya itu bom,” tanya Jamil penasaran.</p>
<p>“Kalau kata polisi sih bukan cuma buku aja. Tapi itu ketahuan setelah diledakin paketnya sama tim gegana. Katanya biar aman jadi diledakin aja tuh paket.”</p>
<p>“Emang bukunya apa Sarah? tanya Rusman</p>
<p>“Hmm…kalau kata Jamilah sih Kupinang Engkau Dengan Hamdallah.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagai kesetrum listrik, tubuh Jamil menegang. Matanya menatap Rusman yang tersenyum terkekeh-kekeh di sudut ruangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tangerang, 5 April 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aadityabudiman.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aadityabudiman.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aadityabudiman.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aadityabudiman.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aadityabudiman.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aadityabudiman.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aadityabudiman.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aadityabudiman.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aadityabudiman.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aadityabudiman.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aadityabudiman.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aadityabudiman.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aadityabudiman.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aadityabudiman.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=95&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/04/05/sekotak-buku-untuk-jamilah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/686a47efc23cb0e600891f11a2bd604f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aadityabudiman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prinsip Agar Damai Dalam Bekerja</title>
		<link>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/04/05/prinsip-agar-damai-dalam-bekerja/</link>
		<comments>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/04/05/prinsip-agar-damai-dalam-bekerja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 13:05:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aadityabudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aadityabudiman.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari di sore yang mendung tampak dua orang lelaki sedang berbicang. Tersebut dua lelaki itu adalah Andi dan Anda. Andi dan Anda adalah dua orang sahabat karib. Pertemanan mereka diawali sejak duduk di bangku SMP hingga perguruan tinggi. Selepas kuliah mereka berpisah satu sama lain. Andi mendapatkan pekerjaan diluar kota, sedang Anda bekerja di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=92&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari di sore yang mendung tampak dua orang lelaki sedang berbicang. Tersebut dua lelaki itu adalah Andi dan Anda. Andi dan Anda adalah dua orang sahabat karib. Pertemanan mereka diawali sejak duduk di bangku SMP hingga perguruan tinggi. Selepas kuliah mereka berpisah satu sama lain. Andi mendapatkan pekerjaan diluar kota, sedang Anda bekerja di sebuah perusahaan nasional di pusat ibu kota.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Meski mereka berdua berbeda pekerjaan dan berjarak sangat jauh, Andi dan Anda bersepakat untuk saling mengunjungi atau berkumpul tiap tiga bulan sekali. Mereka enggan memanfaatkan teknologi untuk sekedar saling bertukar kabar. Bagi Andi dan Anda tidak afdal jika silahturahmi tidak saling tatap muka atau berjabat tangan dan berpelukan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di tahun pertama, mereka berdua cukup konsisten untuk berkumpul. Kadang Andi mengunjungi Anda yang menetap di ibukota. Adakalnya pula, Anda yang datang ke tempat Andi. Namun di tahun kedua pertemuan mereka menjadi semakin jarang. Mereka hanya sempat berkomunikasi lewat email atau chatting di internet karena kesibukan telah melumpuhkan mereka untuk saling mengunjungi satu sama lain.</p>
<p>Selang empat tahun kemudian Andi dan Anda baru bisa menyempatkan diri untuk bertemu bertatap muka di satu tempat yang telah mereka sepakati. Mereka sudah empat tahun tidak ketemu dan ngobrol banyak soal segala hal. Dan akhirnya mereka bertemu di warung makan dekat kampus di mana mereka kuliah dulu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Obrolan mengalir deras dari mulut Andi dan Anda secara bergantian. Mulai dari mengingat masa-masa sekolah, kuliah, hingga perjuangan mencari pekerjaan. Satu waktu Anda mengeluhkan tentang pekerjaannya. Selama empat tahun ini, lebih dari empat perusahaan telah dia lakoni. Beragam posisi dan kedudukan telah Anda tempati dan beraneka gaji sudah dia rasakan, dari mulai gaji dengan mata uang asing hingga mata uang negara sendiri. Berbeda dengan Andi. Sejak tahun pertama bergabung dengan perusahaan yang bergerak di bidang otomotif, tidak selangkah pun Andi beranjak dari tempat dia bekerja. Andi sepertinya nyaman dengan pekerjaannya dan sepertinya itu akan menjadi pekerjaan pertama sekaligus terakhir baginya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Entahlah Di,saya sudah lelah gonta-ganti kerjaan, kayanya gak ada yang cocok”, keluh Anda.</p>
<p>”Memang apa yang kau cari Da, sampe lima kali pindah kerjaan?” tanya Andi.</p>
<p>”Saya ngerasa gak cocok sama pendapatan, terus di tiap perusahaan itu lama sekali kenaikan jenjang karirnya”, jawab Anda.</p>
<p>”Nah, kamu sendiri kenapa setia banget sama kerjaan yang sekarang. Dari lulus kuliah sampe sekarang gak mau coba profesi lain?” tanya Anda.</p>
<p>”Saya sih coba konsisten. Lagian juga baru empat tahun, sebentar kali untuk itungan kerjaan. Sama seperti waktu kuliah dulu. Tapi bukan cuma itu aja sih sebenarnya, masih ada hal lain”, tegas Andi.</p>
<p>”Apaan tuh?” tanya Anda.</p>
<p>”Kalo ngeliat dari raut muka kamu Da, kayanya kamu tuh gelisah banget sama kerjaan yang sekarang. Kaya tertekan keliatannya. Begini Da, saya menemukan ini sekitar dua bulan yang lalu. Ada tiga hal sebenarnya yang perlu kita perhatikan ketika kita bekerja. Ya, saat ini sih saya baru menemukan tiga, mungkin bisa nambah kelak. Saya nyebut ini tiga prinsip agar kita damai dalam bekerja.”</p>
<p>”Tiga prinsip?” tanya Anda dengan terheran-heran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Prinsip pertama jika kamu ingin damai dalam pekerjaan, kamu harus sadar bahwa kita tidak akan pernah puas dengan penghasilan yang kita peroleh sekarang. Waktu gaji kita kecil, kita bermimpi ingin naik. Nah, ketika bos naikin gaji kita, kita masih juga ngerasa kurang sama gaji tersebut padahal udah nambah dari yang dulu. Manusia itu gak pernah puas. Kadang kita cenderung lebih sibuk memikirkan rezeki orang lain dibanding dengan rezeki kita sendiri. Masih inget gak sama film The Matrix, waktu Oracle nanya sama Neo. Apa yang dicari oleh pria yang punya kekuasaan? Oracle menjawab, pria yang punya kekuasaan hanya mencari kekuasaan yang lebih besar lagi untuk mempertahankan kekuasaan yang sudah ada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Prinsip kedua Da, fakta yang kadang kita suka lupa, yaitu bahwa atasan pasti lebih kaya dari kita, apalagi owner alias pemilik perusahaan. Hikmahnya apa, simple aja, kita jangan pernah dengki sama atasan. Wajar kalo suatu ketika kita digenjet, orang dia atasan kita. Kita digaji untuk dimarahin juga. Dan parahnya nih Da, saat kita udah jadi atasan kita suka lupa atau pura-pura lupa bagaimana memperlakukan bawahan dengan baik, padahal dulunya kita di bawah. Inget Da, di atas langit masih ada langit. Maksud saya, kalo kamu mau melangkahi gaji atasan, ya kamu lewatin dia dulu, berprestasi lebih baik dari dia atau keluar dari perusahaan dan cari posisi yang lebih baik dari atasan kamu yang dulu. Ini pun sebenarnya sama saja, karena toh kamu bakal bertemu sama atasan juga. Solusi lain, mungkin kamu bisa jadi bisnisman atau wirausahawan.</p>
<p>”Prinsip ketiga, menurut saya penting bahwa kamu harus tahu dan sadar kalo gaji yang kamu dapat itu menunjukkan nilai kamu yang sebenarnya di mata perusahaan. Besar gaji secara tidak langsung menunjukkan diri kamu yang sebenarnya. Jika kamu gak terima dengan gaji tersebut, ya tidak ada cara lain selain meningkatkan kapasitas diri kamu maka dengan otomatis gaji pun akan naik. Kalau kamu sadar, maka tidak perlulah kita saling sikut-sikutan dengan rekan kerja, menjilat atasan dsb. Nah, kalo kamu yakin dengan kapasitas kamu yang bagus tapi tidak dihargai dengan baik, maka pindah pekerjaan saja. Buktikan bahwa perusahaan tersebut telah salah menilai kamu. Apalagi jika kamu kerja untuk perusahaan bagus, kemampuan sama penghargaan biasanya selalu berbanding lurus. Tapi kalo perusahaan baru memberi gaji yang sama itu berarti kemampuan kamu sama saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Selama empat tahun bekerja, baru tiga hukum itu yang saya dapet Da. Bisa saja suatu hari nambah atau berkurang. Jadi menurut saya, pikir baik-baik sebelum memutuskan pindah kerjaan. Mungkin terdengar pragmatis. Sebagai menu penutup syukuri terus apa yang ada di depan mata dan di tangan kita. Orang yang kaya itu, orang yang pandai bersyukur karena dia menyadari kekayaan dirinya tidak berasal dari satu pihak aja. Lagian zaman sekarang nih gak mudah cari kerjaan, ibarat masukin sapi ke lubang jarum. Lebay ya&#8230;.hee..hee&#8230;.” jelas Andi.</p>
<p>”Udahlah, serius amat sih kita. Santailah&#8230;ini kan weekend, jarang-jarang kita kumpul kaya gini&#8230;.</p>
<p>Eh&#8230;.ngomong-ngomong gimana kabar anak-anak yang lain?” tanya Andi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Entah apa yang ada dibenak Anda saat ini. Keinginan untuk pindah perusahaan untuk yang keenam kalinya sepertinya harus dipikirkan kembali. Hujan turun dengan deras, menyapu segala asa diatas aspal kehidupan. Menyegarkan tunas-tunas hijau yang siap menyebarkan benih-benih semangat baru.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bawalah serta Allah dimana pun kita bekerja. Insya Allah semuanya akan terasa lapang bahkan saat kita sedang tidak bekerja sekali pun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wallahuallam&#8230;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tangerang, 4 April 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aadityabudiman.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aadityabudiman.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aadityabudiman.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aadityabudiman.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aadityabudiman.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aadityabudiman.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aadityabudiman.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aadityabudiman.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aadityabudiman.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aadityabudiman.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aadityabudiman.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aadityabudiman.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aadityabudiman.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aadityabudiman.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=92&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/04/05/prinsip-agar-damai-dalam-bekerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/686a47efc23cb0e600891f11a2bd604f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aadityabudiman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat dari Abasa</title>
		<link>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/04/05/surat-dari-abasa/</link>
		<comments>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/04/05/surat-dari-abasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 13:04:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aadityabudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bingkai Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aadityabudiman.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah cerita dikisahkan bahwa suatu hari Jalaluddin Rumi ditantang oleh seorang muslim yang bernama al-Qunawi di depan khalayak. “Kamu menyatakan bersatu dengan 72 aliran agama,” kata al-Qunawi, “tetapi orang-orang Yahudi tidak sepakat dengan orang-orang Kristen dan orang-orang Kristen tidak sepakat dengan orang-orang Islam. Jika mereka tidak saling sepakat, bagaimana kamu sepakat dengan mereka semua?” Lalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=90&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah cerita dikisahkan bahwa suatu hari Jalaluddin Rumi ditantang oleh seorang muslim yang bernama al-Qunawi di depan khalayak. “Kamu menyatakan bersatu dengan 72 aliran agama,” kata al-Qunawi, “tetapi orang-orang Yahudi tidak sepakat dengan orang-orang Kristen dan orang-orang Kristen tidak sepakat dengan orang-orang Islam. Jika mereka tidak saling sepakat, bagaimana kamu sepakat dengan mereka semua?” Lalu dengan anggun Rumi menjawab, “Ya aku setuju, aku juga sepakat denganmu.”</p>
<p>Rumi adalah seorang Sufistik besar. Semua intelektual, budayawan, ulama, para pengikutnya bahkan juga musuhnya mengakui hal itu. Rumi lahir pada 1207 M dan aku lahir pada 1984 M. Sebuah jarak yang sangat jauh terbentang, tapi mengapa aku tetap menemukan relevansi dari karya-karya yang diciptakannya dengan realitas yang terjadi pada detik ini ? Sungguh aku pun kesulitan ketika harus menterjemahkan maksud hati dari tulisan-tulisan sang guru ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku yakin kita semua pernah mendengar kisah masyur seorang sahabat Rasulullah saw yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Dengan jelas peristiwa ini terukir dalam al-Quran surah Abasa. Setelah peristiwa tersebut, mengutip dari Djamaluddin Ahmad al-Buny, setiap kali Rasulullah bertemu dengan Abi Ummi Maktum beliau selalu mengucapkan salam, “Ahlan Biman Atabany Fihi Rabby” (selamat datang wahai saudara yang menyebabkan aku ditegur oleh Tuhanku).</p>
<p>Melihat tempat turunnya surah Abasa, yaitu di Mekah, kita bisa tahu bahwa dari aspek sosiologis kondisi umat Muslim pada saat itu sangat minoritas. Lebih jauh kita tahu bahwa masa dakwah di Mekkah (pra hijrah) adalah dakwah yang dipenuhi oleh lobi-lobi politik tanpa kekerasan (perlawanan). Rasul sendiri giat melakukan lobi politik dengan para pemuka Quraisy. Jika lingkar kekuasaan terdekat bisa didekati maka minimal para penentang Islam, seperti Abu Jahal diharapkan tidak melakukan aksi anarkis kepada umat Islam yang banyak dianut oleh kalangan kelas bawah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada sebuah pertanyaan yang sudah lama terpendam. Bagaimana jika yang datang bukanlah seorang yang buta? Apakah orang tersebut akan menunda kedatangannya kepada Rasul? karena tahu bahwa pada saat itu Rasulullah sedang ada pertemuan dengan para pembesar Quraisy. Tapi aku pikir bukan itu. Aku tidak mengharapkan pertanyaan itu terlontar kembali.</p>
<p>Hikmah dan pesan terbesar pada hakikatnya bukanlah kepada Rasulullah saw tapi justru kepada umatnya, khususnya di era sekarang ini. Para kader (red: mayoritas umat muslim) adalah representasi dari sosok Abdullah bin Ummi Maktum. Buta, pincang jalannya, dan lusuh pakaiannya. Para kader jauh dari hingar-bingar perdebatan politik, hitung-hitungan electoral treashold, ramainya sekretariat gabungan dan lingkar kekuasaan lainnya. Namun meski demikian hati mereka senantiasa melekat kepada para masul. Atribut masih setia terpasang meski kadang mereka agak nakal namun itu merupakan sebuah bentuk rasa ingin diperhatikan.</p>
<p>Lalu sesungguhnya apa yang kita cari? Apakah semata-mata hanya untuk 2014? Jika memang demikian bukanlah langkah ini terlalu pragmatis. Hati kecil berteriak bahwa ini bukanlah lompatan besar tapi suatu keputusasaan. Nafas para kader masih tersengal-sengal selepas Pemilu dan itu pun masih harus terus berlanjut untuk Pilkada. Bisakah kita sejenak duduk bersama untuk berbicara dari hati ke hati. Aku mendapatkan bahwa keikhlasan (al Ikhlas) lahir dari sebuah pemahaman (al Fahmu) yang mendalam. Aku tidak ingin melihat saudara-saudaraku bergerak tanpa tahu mengapa dan bagaimana?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rumi pernah menuturkan sebagian orang melihat awal dari segala sesuatu dan sebagian lainnya melihat ujungnya. Nemun mereka yang melihat tujuan adalah besar dan agung karena meskipun mata mereka terpancang mereka masih memandang dunia di atas sana. Aku melihat jangan sampai duniawi (baca:kekuasaan) membutakan sehingga kita tidak bisa melihat awal dan akhir, apalagi melelehkan tujuan kita.</p>
<p>Belum lama ini muncul fitnah yang ditujukan kepada beberapa pemimpin kita. Ironisnya hal itu lakukan oleh pendiri jamaah ini. Menurutnya partai ini sudah melenceng, partai hanya memikirkan kemenangan pemilu saja. Aku sendiri hingga saat ini masih belum menemukan jawaban mengapa masih ada orang-orang yang mencoba memisahkan antara pemikiran barat dan timur.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ini bukan soal dari mana engkau datang tapi soal nilai apa yang kau tawarkan. Tujuan partai adalah menabur benih-benih visi, idealnya adalah seperti itu. Tapi partai dalam dunia praktis adalah untuk mencapai suara dukungan sebanyak-banyaknya. Janganlah dinilai bahwa mencari suara dukungan yang banyak sebagai bentuk pragmatisme. Tapi memang salah satu tujuan partai adalah untuk memenangkan pemilu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tujuan adalah akar materi sisanya hanya memusingkan</p>
<p>Jalaluddin Rumi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wallahualam</p>
<p>Tangerang, 21 Juni 2010</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aadityabudiman.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aadityabudiman.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aadityabudiman.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aadityabudiman.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aadityabudiman.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aadityabudiman.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aadityabudiman.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aadityabudiman.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aadityabudiman.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aadityabudiman.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aadityabudiman.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aadityabudiman.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aadityabudiman.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aadityabudiman.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=90&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/04/05/surat-dari-abasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/686a47efc23cb0e600891f11a2bd604f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aadityabudiman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Partai Ketengah Sedikit</title>
		<link>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/04/05/partai-ketengah-sedikit/</link>
		<comments>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/04/05/partai-ketengah-sedikit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 13:03:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aadityabudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bingkai Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aadityabudiman.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu pertemuan rutin kami agak terlambat dari biasanya. Beberapa meter dari tempat kami berkumpul, sang ustadz sedang bercakap-cakap dengan seorang bapak yang sudah cukup tua. Dari kejauhan aku dapat melihat bahwa bapak itu baru saja selesai lari pagi disekitar kompleks. Ini ditunjukkan dengan sepatu kets yang masih tampak melekat dikakinya dan kaos merah pucat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=88&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi itu pertemuan rutin kami agak terlambat dari biasanya. Beberapa meter dari tempat kami berkumpul, sang ustadz sedang bercakap-cakap dengan seorang bapak yang sudah cukup tua. Dari kejauhan aku dapat melihat bahwa bapak itu baru saja selesai lari pagi disekitar kompleks. Ini ditunjukkan dengan sepatu kets yang masih tampak melekat dikakinya dan kaos merah pucat yang terlihat sedikit basah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pertemuan pun dimulai tepat ketika matahari bergerak setinggi tombak. Tanpa basa-basi pembicaraan langsung masuk ke tema yang sedang hangat diwacanakan. “Partai kita adalah partai untuk semua dan saya harus menjelaskan kepada bapak tadi soal partai kita yang siap membuka kesempatan bagi saudara-saudara kita yang berbeda dari segi akidah,” terang sang ustadz. “Kalau begitu apa dong bedanya PKS dengan partai lain?” tanya sang ustadz mengulangi pertanyaan bapak tadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku yang pertama kali bersuara. Aku bilang mengapa kita harus bicara soal keterbukaan terhadap calon pengurus yang beda akidah? Bagaimana soal mimpi kita yang ingin meraih 20% suara saat Pemilu? Apakah ini hasil evaluasinya? Sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan yang ingin aku keluarkan tapi ada baiknya aku mendengarkan pandangan yang lain. Ternyata sebagian besar bernada sama, yaitu mempertanyakan. Namun disisi lain hati ini terus bergaung. Apakah wacana ini sebuah inovasi atau suatu keputusasaan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tipologi Partai</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika Bung Karno masih berkibar, negeri kita pernah kaya akan berbagai ideologi namun tetap santun. Maka tidaklah heran ketika pada Pemilu 1955 sejarah mencatat bangsa kita dikenal sebagai bangsa paling demokratis karena selain melibatkan puluhan partai politik, Pemilu 1955 tidak melahirkan konflik horizontal yang sempat menjadi kekhawatiran elit pada saat itu. Bila melihat banyaknya partai yang ikut pemilu kita patut berbangga karena Amerika saja yang sering disebut mbahnya demokratis hanya punya dua partai saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada era Bung Karno, setidaknya ada tiga parpol yang cukup terkenal di mata kakek nenek kita. Ketiga parpol tersebut mewakili tiga ideologi yang terlihat jelas perbedaannya. PNI dengan nasionalismenya, PKI dengan Marxis atau sering disebut ekstrem kiri, dan Masyumi yang mewakili pandangan Islam atau ekstrem kanan. Masyarakat dengan mudah dapat membedakan ketiga tipologi parpol tersebut. Visi Masyumi jelas yaitu menghendaki negara berdasarkan Islam. Bagi PNI Pancasila adalah harga mati yang tidak bisa ditawar sedang PKI berlindung dibalik Pancasila tapi tetap konsisten dengan Sosialisme. Itulah musim demokrasi terindah di negeri ini. Berbeda tapi tetap santun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bung Karno dibungkam, terbitlah Orde Baru dibawah seorang panglima yang bernama Soeharto. Soeharto sesungguhnya sangatlah cerdik, untuk membangun sebuah negara yang maju yang diperlukan adalah banyak bekerja sedikit bicara. Keamanan dan stabilitas negara menjadi modal utama. Agar masyarakat dan para elit politik tidak banyak bicara maka pilihan masyarakat dan keterlibatannya dalam politik praktis harus dibatasi. Orde Baru tetap memfasilitasi tipologi ideologi besar, yaitu Islam, Nasionalis, dan Sosialis tapi dengan diwakili oleh tiga parpol saja maka lahirlah PPP (Islam), PDI (Sosialis), dan Golkar (Nasionalis). Pembedaan tiga tipologi ini pada akhirnya meresap ke sumsum generasi muda,terutama mereka yang bergerak di politik kampus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selama tiga dekade berkuasa, Orba berhasil membentuk suatu masyarakat yang memiliki pola pikir pragmatis. Masyarakat digiring untuk bergerak ke suatu daerah atau zona aman, yaitu tengah. Jika dia seorang muslim, maka muslim yang tidak fanatik. Jika dia seorang nasionalis maka nasionalis yang agamais. Dan jika dia seorang sosialis maka sosialis yang tidak militan. Gen ini menurun kepada generasi kelahiran 1980 dan 1990 yang notabene merupakan pemilih terbesar saat ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagaimana dengan sekarang? Mayoritas masyarakat Indonesia saat ini sudah tidak mempedulikan tipologi tiga ideologi besar seperti yang terjadi pada Pemilu 1955. Pemilih di Indonesia relatif lebih pragmatis dengan sedikit daerah saja yang masih memilih partai karena alasan ideologis, seperti Bali dengan PDI-P, Jatim dengan PKB dan Sumbar dengan PAN. Di luar basis massa tersebut semuanya menjadi bias. Sementara bagi masyarakat perkotaan cenderung lebih pragmatis dan apatis. Hanya kalangan intelektual, akademisi, pakar, media massa, dan elit politik saja yang selalu ribut-ribut soal ideologi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Saya sependapat dengan Salahuddin Wahid (Kompas 26/6/10) bahwa Parpol di Indonesia dewasa ini sedang bermetamorfosis. Gawatnya masyarakat kita tidak bisa membedakan mana yang kepompong, ulat, atau kupu-kupu. Para elit Parpol boleh saja mengaku Sosialis, Islamis atau Nasional tapi jika kita melihat langkah kebijakan yang dikeluarkan oleh para elit sesungguhnya sangat bias alias abu-abu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemerintahan DKI lebih kapitalis dibanding Pemerintahan Solo. Di Jakarta misalnya, pedagang kaki lima selalu pontang-panting dikejar-kejar satpol PP berbeda dengan di Solo yang walikotanya memfasilitasi PKL. Terkait Perda yang berbau syariat Islam, justru Golkarlah sebagai pengambil prakarsa. Ketika Mbak Mega menjadi presiden, dengan santai dia melepas beberapa BUMN kepada pihak asing padahal sang Ayah dahulu sangat anti modal asing apalagi sampai hati menjual aset bangsa. Jadi jelaslah sudah kita bisa tahu apakah sesuatu itu ulat, kepompong atau kupu-kupu adalah dari fungsi yang dilakoni, tapi sekali lagi tidak mudah untuk mengambil simpulan tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semua pada akhirnya kembali kepada diri kita selaku wong cilik. Saya melihat bahwa berubahnya pergeseran pandangan politik dari parpol adalah karena berubahnya pula wajah masyarakat. Secara sederhana wajah parpol adalah wajah masyarakat juga. Kita lihat, Demokrat selaku pemenang Pemilu 2009 tentu masih ingin menjadi nomor satu pada 2014, maka keluarlah slogan partai nasionalis-agamais. PDI-P tidak mau kalah dengan mengeluarkan nada yang sama dengan Demokrat. Golkar relatif konsisten berada di poros tengah. Justru yang menarik adalah partai Islam, khususnya PKS. Dalam hasil munas PKS memutuskan membuka diri bagi pengurus non-muslim dan konon akan ada perubahan dalam AD/ART untuk merealisasikan kesungguhan tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari sini parpol melihat bahwa masyarakat saat ini tidak terlalu mementingkan faktor ideologi. Parpol pun merasakan bahwa suara terbanyak adalah berasal dari masyarakat kelas menengah yang relatif pragmatis dan tidak mau ambil pusing dengan analisis ini-itu. Sehingga lahirlah sebuah istilah baru, yaitu “Partai Ketengah Sedikit” (PKS). Mereka yang dahulu berada di sisi kanan bergeser sedikit agak ke tengah, begitu pun dengan yang di kiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah benar demikian adanya? Sebetulnya ada faktor lain yang menjadi ketakutan para elit, yaitu mengenai wacana kenaikan ambang batas suara Pemilu yang semula 2,5% menjadi 5 %. Dengan adanya ambang batas maka semuanya bermuara pada jumlah parpol yang relatif sedikit. Jika ini benar adanya maka parpol yang menyatakan identitasnya sebagai parpol Islam patut merasa khawatir. Jika ini terjadi maka hanya Demokrat, Golkar, PDI-P, dan PKS saja yang akan eksis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemilu 2009 sudah menunjukan dengan terang benerang bahwa telah terjadi penurunan peroleh suara dari Parpol yang berbasis Islam. Hanya PKS-lah yang relatif konsisten. Melihat tren ini, tentunya PKS tidak tinggal diam karena bisa jadi pada 2014 nanti parpol Islam sudah tidak ada yang memilih sehingga perlu adanya transformasi/metamorfosis. Terlepas dari itu semua, kita patut mengacungi jempol terobosan-terobosan yang dilakukan oleh para elit politik karena itu artinya mereka mampu beradaptasi. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa masih bertahannya kelangsungan hidup manusia adalah karena manusia mampu beradaptasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wallahualam</p>
<p>Tangerang, Sabtu 26 Juni 2010</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aadityabudiman.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aadityabudiman.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aadityabudiman.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aadityabudiman.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aadityabudiman.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aadityabudiman.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aadityabudiman.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aadityabudiman.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aadityabudiman.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aadityabudiman.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aadityabudiman.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aadityabudiman.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aadityabudiman.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aadityabudiman.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aadityabudiman.wordpress.com&amp;blog=6371194&amp;post=88&amp;subd=aadityabudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aadityabudiman.wordpress.com/2011/04/05/partai-ketengah-sedikit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/686a47efc23cb0e600891f11a2bd604f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aadityabudiman</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
