Haji dan Ketaqwaan Sosial

Entah berapa kali saya hampir menitikan air mata dan merasakan bulu kuduk berdiri. Semua rasa rindu, sedih, haru, bahagia menyatu dalam nuansa kesederhanaan dan penuh cinta kasih. Adegan demi adegan seolah menghentak kesadaran saya. Seluruh cerita sangat mencerminkan perilaku masyarakat Indonesia. Di akhir cerita, semua penonton berusaha untuk menyembunyikan buliran air mata, termasuk saya.

Itulah kesan yang saya peroleh setelah menonton film Emak Ingin Naik Haji. Film yang diangkat dari cerpen karya Asma Nadia ini menceritakan seorang Ibu (Emak) yang rindu untuk naik haji. Realitas sepertinya tidak berpihak pada Emak, mengingat pendapatannya yang tak tentu sebagai penjual kue, belum lagi umur yang sudah menginjak kepala enam. Emak sadar bahwa mustahil baginya untuk pergi ke tanah suci, tapi bukan berarti niat dan ikhtiar harus berhenti. Emak tetap terus menanam niat dan ikhtiar meski pergi haji ibarat menegakkan benang basah.

Sementara itu, tetangga depan rumah Emak (diperankan Didi Petet) hampir tiap tahun pergi Haji. Dan bagi Pak Haji dan keluarga, pergi umrah tidak beda seperti melakukan perjalanan Jakarta-Bandung. Tokoh lainnya adalah seorang politikus yang mencalonkan diri menjadi walikota. Berhubungan daerah pemilihan sang calon dihuni oleh masyarakat yang kental nuansa religius, maka gelar haji sangat diperlukan untuk melangkapi gelar akademisnya yang kurang familiar di mata masyarakat.  Bagi sang calon walikota, ibadah haji tidak berbeda jauh seperti menghadiri training management atau seminar sehari penuh. Gengsi dan gelar semata.

Bagi umat Islam, ibadah haji adalah sebuah perjalanan spritual menuju episentrum Ilahi. Haji adalah puncak ibadah dalam rukun Islam. Maka tidak heran jika hanya orang-orang yang terpilih (mampu) saja yang bisa menyambut panggilan Allah. Meski jutaan orang berkumpul di Padang Arafah dan bertawaf di Kabah, tapi hanya mereka yang berniat lurus dan betul-betul rindu kepada Allah-lah yang pantas menyandang haji mabrur.

Saya tidak tahu sejak kapan sebutan/panggilan Haji mulai bergulir di Indonesia. Rasulullah dan para sahabat pun pernah berhaji, tapi dalam hadits atau sirah saya belum menemukan sebutan Haji Umar bin Khatab atau Haji Abu Bakar Assiddiq dsb. Pokoknya bagi siapa saja yang pernah pergi haji, begitu kembali ke Indonesia maka secara otomatis orang disekelilingnya akan menyebut Haji/Hajah. Seperti suatu keharusan. Saya pun belum pernah bertanya, kepada Pak Haji atau Bu Hajah, apakah sebutan haji tersebut membuat beban psikologis bertambah bagi mereka.

Saya merasa bahwa orang yang telah berhaji adalah mereka yang telah beberapa langkah lebih dekat dengan sosok Nabi Ibrahim dan keluarga (dalam konteks kepribadian dan spirit). Setidaknya mereka memiliki ”pengalaman” yang hampir sama dengan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar.

Kita semua sudah tahu betapa rindunya Ibrahim as menanti kehadiran seorang anak. Allah baru menjawabnya saat Ibrahim menginjak usia 70 tahun. Kita pun tahu betapa Ibrahim harus berhadapan, tidak saja dengan pemimpin yang zhalim, tapi juga dengan sang ayah yang berprofesi sebagai pembuat patung (”tuhan”) sehingga menyebabkan Ibrahim dibakar hidup-hidup saat melawan tuhan mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Selanjutnya, ketika anak yang dinanti hadir (Ismail), Ibrahim justru mengasingkan anak dan istrinya di padang tandus dan kering (Mekah). Kita pun tahu, sekitar 7 tahun berselang Ibrahim baru bisa menemui mereka. Dan tahukah kau kawan setelah mereka bertemu, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail sang anak. Namun satu hal yang tidak saya ketahui adalah bagaimana cara Ibrahim mengkomunikasikan hal tersebut dengan anak dan istrinya. Itulah ujian Allah kepada hamba yang paling dicintai-Nya.

Sehingga saya berpikir, apakah ada beban psikologis kepada orang-orang yang telah menunaikan ibadah haji? Mengingat haji adalah suatu proses pengorbanan untuk memperoleh cinta atau ridho Allah. Seorang haji harus bisa menunjukkan jiwa dan rasa pengorbanan itu selepas kembali dari tanah suci. Ujian sebenarnya seorang haji adalah selepas dari berhaji. Proses ibadah haji di tanah suci secara tidak langsung adalah suatu rekonstruksi peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan keluarga. Jadi jelas, output dari berhaji, sang haji harus berani melawan pemimpin zhalim, rela mengorbankan harta, jiwa, anak, dan istri demi tegaknya syariat Islam. Jika hal itu tak terwujud, maka hanya ritual simbolisme semata yang didapat.

Mungkin terlampau jauh jika kita menuntut orang yang selesai berhaji harus seperti itu. Namun ada fakta yang menarik bahwa tiap tahun jamaah haji senantiasa naik, bahkan waiting list-nya (di Indonesia) mencapai tiga tahun. Jadi jika anda mau pergi haji, setidaknya harus menanti tiga tahun baru bisa pergi. Dari banyaknya penduduk Indonesia yang berhaji, saya pikir seharusnya saat ini kita sudah bisa merasakan indahnya nilai-nilai Islam di penjuru negeri. Sebab, secara tidak langsung, ibadah haji akan mendorong mereka yang berhaji semakin meningkat nilai-nilai sosialnya. Rajin bersedekah, rajin menolong, dan rajin mengingatkan (berdakwah).

Dan buat anda yang belum berhaji, bukan berarti tanggung jawab itu tidak ada. Pergi ke tanah suci bukanlah tolak ukur kesalehan. Yang terpenting bagi anda, juga saya, adalah tetap terus memelihara rasa rindu, ikhtiar, dan mempersiapkan diri untuk berhaji. Sampai saat itu tiba, seleraskan terus kesalehan spiritual dengan kesalehan sosial sehingga ”gelar” haji yang didapat bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ya Rabb, aku berlindung dari sisa umur yang tidak bermanfaat. Berikanlah kami cahaya di depan, dibelakang, di kiri, di kanan, di atas, di bawah. Semoga dengan cahaya itu kami tidak tersesat dari jalan-Mu. Ya Rahman…berkahilah kedua orangtua kami dan berikanlah mereka tempat yang mulia di sisi-Mu dan pertemukan kami kelak di surga-Mu.

Wallahualam.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s